Mating and fertilization success in the blue crab, Callinectes sapidus Rathbun (Decapoda, Portunidae)
1997
Darsono, P. (Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Jakarta (Indonesia))
مجهول. Interaksi berpasangan antara jantan dewasa (mature male) dan betina dara (pubescent female) kepiting biru, Calinectes sapidus Rathbun, dalam proses perkawinan telah diamati. Pasangan yang berhasil, umumnya jantan selalu berukuran lebih besar dibanding betina dara pasangannya. Namun ukuran ini akan berbalik setelah betina dara tersebut mengalami "molting". Kompetisi antar jantan dalam memperebutkan betina dara terjadi dan hampir selalu dimenangkan oleh jantan dewasa berukuran lebih besar. Kepiting betina kawin segera setelah "pubertal molt", namun ada kemungkinan kawin lagi dengan jantan lain dalam hari-hari minggu awal setelah molting. Perkawinan dengan lebih dari satu jantan meningkatkan jumlah sperma tersimpan dalam organ "spermathecae" betina. Strategi perkawinan pada kepiting adalah penyimpanan sperma dalam organ spermathecae pada betina dan terjadinya pembuahan yang tertunda. Viabilitas sperma tersimpan tersebut dipelajari melalui pengamatan kandungan telur-telur (brooded eggs) kepiting. Kandungan telur, baik pada kepiting yang kawin sekali di laboratorium, maupun pada kepiting yang dikumpulkan dari alam hampir seluruhnya dibuahi (92-100 persen). Fekunditas kepiting betina yang kawin sekali di lab berkisar antara 0,6-1,2 juta telur, sedang pada kepiting betina yang bertelur di alam bervariasi antara 1,4 sampai 3,1 juta telur. Fekunditas meningkat sebanding dengan ukuran lebar karapas (carapace width). Terlihat kecenderungan menurunnya prosentase telur yang dibuahi (fertilized eggs) pada kandungan telur kedua dan berikutnya (subsequent cluth). Diperkirakan cukup sperma tersimpan hasil sekali kawin untuk membuahi lebih dari sekali kandungan (multiple broods). Jumlah sperma tersimpan pada spermathecae tidak ada kaitan dengan ukuran pasangan kawin baik jantan maupun betina kepiting
اظهر المزيد [+] اقل [-]