[Response of soybean on shading level]
2000
Adisarwanto, A. | Suhartina | Soegiyatni
إنجليزي. In Indonesia, soybean can be grown either as monoculture or intercropping. Generally soybean is intercropped with maize or as relay crop under/between annual trees (bananas, coconut or cashew nut). However, with these systems, soybean will compete on light, nutrient or water. To study the effect of shading on soybean, a field experiment was conducted during dry season (June to September 1997) and rainy season (Nov. 1997 to February 1998) at Inlitkabi Jambegede with Entisol soil type, C3 climate and soil pH 6,50. A split plot design was used with three replications. The main plot was four shading treatment by using black plastic net (0, 32, 50, and 65 percent), and as Sub plot was 14 promising lines and 1 released variety Pangrango as control. Plant spacing was 40 cm x 10 cm, 2 plants/hill. Basal fertilizers were applied at 50 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCl/ha. Response of soybean on shading was different between dry season and rainy season. Interaction of shading and soybean lines were found more characters observed during rainy season to dry season such as soybean seed yield. Increasing shading treatment up to 65 percent decreased seed yield by 53 percent and 73 percent during dry season and rainy season, respectively. The decreased of seed yield was due to reducing number of pod, seed size and seed yield per plant by 38 percent, 10 percent and 34 percent during dry season, and 50 percent, 14 percent and 54 percent for rainy season. During the two season of sowing there were not significantly different between shading of 32 percent and 50 percent on seed yield, number of pods, seed size, seed yield per plant and number of days to harvest. Out of 14 soybean lines two lines MLG 2832 and MLG 2576 yielded similar to Pangrango during two season. MLG 2832 was highly tolerance on shading during rainy season
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Di Indonesia, kedelai dapat tumbuh di berbagai agroekologi baik di lahan sawah maupun lahan kering dengan cara penanaman yang berbeda antara lain tumpangsari antara kedelai dengan jagung atau ditanam di bawah/di antara tanaman tahunan (pisang, kelapa atau jambu mente). Kondisi penanaman tersebut akan menyebabkan adanya naungan pada tanaman kedelai. Besar atau kecilnya tingkat naungan maupun periode/waktu penaungan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan maupun produktivitas kedelai. Salah satu kegiatan penelitian di lapang dengan memakai naungan pada beberapa tingkat (0, 32 persen, 50 persen dan 63 persen) yang terbuat dari net plastik berwarna hitam telah dilakukan untuk mengevaluasi sebanyak 14 galur hasil persilangan dan 1 varietas Pangrango sebagai kontrol. Penelitian dilakukan di lahan sawah bekas tanaman padi di Inlitkabi Jambegede selama musim tanam yaitu musim kemarau (Juni-September 1997) dan musim hujan (Nopember 1997 sampai Februari 1998), berjenis tanah Inceptisol coklat kelabu dengan pH tanah 6,50. Digunakan rancangan percobaan Petakan Terpisah dengan tiga ulangan. Jarak tanam 40 cm x 10 cm, 2 tanaman/lubang. Pupuk dasar yang digunakan adalah 50 kg Urea + 50 kg SP-36 dan 50 kg KCl/ha. Respon kedelai terhadap naungan berbeda pada musim kemarau dan musim hujan. Interaksi antara naungan dan galur lebih banyak diperoleh pada musim hujan dibanding musim kemarau pada beberapa parameter yang diamati antara lain hasil biji. Makin besar naungan yaitu mencapai 65 persen ternyata menurunkan biji 53 persen dan 73 persen dibanding kontrol masing-masing pada musim kemarau dan hujan. Penurunan hasil biji ini dikarenakan menurunnya jumlah polong isi, ukuran biji dan berat biji per tanaman masing-masing sebesar 38 persen, 10 persen dan 34 persen untuk musim kemarau, sedangkan pada musim hujan penurunan tersebut semakin besar yaitu berturut-turut 50 persen, 14 persen dan 54 persen. Pada kedua musim tanam tidak ada perbedaan antara naungan 32 persen dan 50 persen terhadap hasil biji, jumlah polong isi, berat 199 biji, berat biji/tanaman dan umur panen. Dari 14 galur kedelai yang dievaluasi terdapat 2 galur yang konsisten memperoleh hasil biji yang sama dengan kontrol (Pangrango) di kedua musim tanam yaitu MLG 2832 dan MLG 2576. Galur MLG 2832 menunjukkan toleransi terhadap naungan pada musim hujan
اظهر المزيد [+] اقل [-]