[The efficient method of the taro cultivation]
2000
Basyir, A.
إنجليزي. Research of the efficient method of Taro cultivation was held in Genteng (Regosol soils, C climate type, altitude of 168 m from the sea level), Muneng (Mediteran, E, 10 m), Jambegede (Latosol, C, 355 m), Kendalpayak (Aluvial, C, 450 m), and Ngale (Grumosol, D, 55 m), during dry and wet season of 1997. By using treatments (1. Fertilizer combination of N, NP, NPK, NPKS, 2. Cow manure: 5-20 t/hectare, 3. the dosage of Urea 150-450 kg/hectare, 4. frequency of Urea application 1-4 times, 5. plant spacing 60 cm x 60 cm - 100 cm x 60 cm, and 6. rigging effect) were arranged in Randomized Block Design. The results showed only N fertilizer (Urea) increased cork yield significantly in all of the research location. At the regosol soil (Genteng) the optimum dosage of Urea was 300 kg/ha, and at the mediteran soil (Muneng) was 150 kg/ha. There was not different of corm yield between the frequency of urea fertilizer application. The treatments of cow manure fertilizer, plant spacing, and rigging did not give any effect. The closer plant spacing (60 cm x 60 cm) the landuse is more efficient. Based on those results, the efficient methods for the Taro cultivation at the agroecosystem, are plant spacing of 60 cm x 60 cm, without rigging. At the Regosol soils (Genteng) 300 kg Urea per hectare as recommended, and at the others locations 150 kg Urea. Urea is applied at one month after planting
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Penelitian tentang cara budidaya talastaro (Colocasia esculenta) yang efisien telah dilaksanakan pada musim kemarau 1997 dan musim hujan 1997/1998 pada tanah Regosol di Genteng, Mediteran di Muneng, Latosol di Jambegede, Aluvial di Kendalpayak, dan Grumosol di Ngale. Kelima lokasi penelitian tersebut mempunyai tipe iklim C dengan tingkat kesuburan tanah tergolong sedang, kecuali tanah Aluvial di Kendalpayak yang tergolong tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan perlakuannya terdiri dari perlakuan pengaruh penggunaan jenis pupuk (Urea, SP36, KCl, ZA, dan pupuk kandang), dosis pupuk Urea (antara 0-450 kg/ha), frekuensi pemberian pupuk Urea (satu kali sampai dengan 4 kali pemberian), jarak tanam (mulai 60 cm x 60 cm hingga 100 cm x 60 cm), dan pengaruh pengguludan (tanpa gulud, gulud tunggal dan gulud baris). Sebagai tolok ukur diamati hasil umbi, tinggi tanaman, serta ukuran umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian ini pemberian pupuk Urea dapat meningkatkan hasil umbi/batang, sedangkan penambahan pupuk lainnya setelah pupuk Urea tidak meningkatkan hasil umbi. Pada tanah Regosol di Genteng kebutuhan pupuk Urea kurang lebih 300 kg/ha dan pada tanah mediteran di Muneng cukup 150 kg/ha. Agar lebih efisien dalam penggunaan sumberdaya pupuk Urea tersebut cukup diberikan satu kali sebab hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh frekuensi pemberian pupuk Urea terhadap hasil umbi/batang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pengatur jarak tanam dan pengguludan tidak meningkatkan hasil umbi per batang. Walaupun jarak tanam tidak berpengaruh terhadap hasil umbi, tetapi jarak tanam yang rapat (60 cm x 60 cm) lebih efisien dalam penggunaan sumberdaya lahan, dan karena pengguludan tidak berpengaruh terhadap hasil umbi, maka cara tanam tanpa guludan lebih efisien dalam penggunaan sumberdaya. Dapat disimpulkan bahwa teknik budidaya talastaro yang efisien pada lahan (ekosistem) penelitian ini dapat dilakukan dengan cara menanam bibit tanpa guludan, dengan jarak tanam yang rapat (60 cm x 60 cm) dan cukup dipupuk Urea saja. Pada tanah Regosol di Genteng dosis pupuk Urea kurang lebih 300 kg/ha dan pada tanah Mediteran di Muneng kurang lebih 150 kg/ha. Pupuk Urea tersebut cukup diberikan satu kali pada umur kurang lebih satu bulan setelah tanam
اظهر المزيد [+] اقل [-]