Development of legume crops on West Nusa Tenggara
2000
Arsyad, D.M. (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
إنجليزي. Farmer's income could be increased through increasing the crop intensity during the year. Irrigated and rainfed lowland in West Nusa Tenggara planted by once and twice of rice in year are available for 110,000 ha and 80,000 ha, respectively. On the other hand, there are 178,000 ha of upland area and 92,000 ha of temporary fallow land in the islands. While, the area planted by secondary crops (palawija crops) is about 23,540 ha annually. About 122,191 ha of the secondary crops are planted in irrigated and rainfed lowland, and the others are planted in upland areas. It is estimated that there is area of 50,000 ha in irrigated and rainfed lowland that could grown to increase the crop intensity by the secondary crops, while there is area of 100,000 ha for increasing the crop intensity in upland. When water supply are more available, the possibility to increase the crop intensity will be higher in the islands. The research results indicated that the improved technologies could produced 2.8; 3.7; 2.7 and 5.6 t/ha for soybean, groundnut, mungbean, and corn, respectively. Economic analysis showed that growing of secondary crops is profitable. The availability of seeds, fertilizer, pesticide and the good price for the products are needed for the developing of the crops
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Upaya untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dapat ditempuh dengan optimasi pendayagunaan sumberdaya lahan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP), misalnya dari 100 menjadi 200 dan dari 200 menjadi 300. Di wilayah Nusa Tenggara Barat terdapat sumberdaya lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan yang ditanami satu kali dan dua kali padi setahun, masing-masing sekitar 111.000 dan 80.000 ha. Di samping itu juga terdapat sumber daya lahan kering (tegalan) dan lahan sementara yang tidak diusahakan masing-masing sekitar 178.000 dan 92.000 ha. Sedangkan luas areal tanaman palawija (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, jagung, ubikayu dan ubijalar) di wilayah tersebut setiap tahun sekitar 231.540 ha, dimana di lahan sawah terdapat sekitar 122.191 ha, dan di lahan kering sekitar 109.349 ha. Diperkirakan terdapat peluang di lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan sekitar 50.000 ha dan di lahan kering sekitar 100.000 ha yang dapat dioptimalkan pendayagunaannya melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) dari 100 menjadi 200 dan dari 200 menjadi 300 dengan pengembangan komoditas kacang-kacangan atau palawija lain yang sesuai. Apabila faktor pembatas ketersediaan air bagi tanaman dapat diatasi maka peluang pengembangan komoditas melalui peningkatan indeks pertanaman akan lebih besar lagi. Penelitian di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa dengan penerapan paket teknologi yang baik dapat dicapai produktivitas tanaman kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan jagung masing-masing 2,8; 3,7; 2,7 dan 5,6 t/ha. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa usahatani palawija memberikan keuntungan yang cukup baik dan dapat dikembangkan dalam upaya meningkatkan pendapatan petani. Untuk langkah operasional diperlukan dukungan teknologi yang sesuai, ketersediaan benih varietas unggul bermutu, akses yang mudah terhadap sarana produksi lainnya, dan adanya kepastian pasar dengan harga yang layak
اظهر المزيد [+] اقل [-]