Research finding of cotton cultivation technology
1998
Kadarwati, F.T., Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat, Malang (Indonesia)
الأندونيسية. Pengembangan kapas di Indonesia banyak mengalami hambatan, baik dari segi sosial ekonomi, faktor alam (iklim dan lahan), kultur teknis dan kendala produksi lainnya. Hambatan dan kendala tersebut menyebabkan rendahnya produktivitas kapas di tingkat petani. Di pihak lain tingkat kesenjangan produksi kapas antara petani dan peneliti cukup tinggi. Untuk mengatasi kendala-kendala produksi dan meningkatkan produktivitas kapas di tingkat petani, Balittas melaksanakan penelitian kapas baik di lahan kering (tadah hujan) maupun di lahan sawah sesudah padi (berpengairan semi teknis) dengan hasil selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut; (1) Telah dirintis 7 varietas kapas yaitu Kanesia 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 serta LRA 5166 dengan spesifikasi lebih tahan terhadap Sundapterix biguttula dan dapat mengurangi pemakaian pestisida sampai dengan 40 persen dengan produksi kapas 2,2 t per hektar. Kanesia 3, 4, dan galur 88004/1/2 (akan dirilis 1998) lebih toleran untuk ditumpangsarikan dengan kedelai dengan produktivitas yang dicapai 1,98 t kapas dan 0,98 t kedelai per hektar di lahan sawah. Kanesia 3 berbulu lebih tahan terhadap S. biguttula dan sedikit toleran terhadap H. armigera sedangkan galur 91001/29/2 menjadi galur harapan untuk pola tumpangsari dengan kacang hijau dengan produktivitas 1,76 t kapas dan 0,7 t kacang hijau per hektar. (2) Usahatani tumpangsari kapas dan kedelai sesuai dikembangkan di lahan sawah berpengairan semi teknis atau sederhana atau lahan sawah tadah hujan berair tanah dangkal dengan pola tanam padi-palawija 1-palawija 2 atau padi-palawija-bero. Lahan yang sesuai (S1) untuk usahatani kapas dan kedelai di Jawa Timur seluas 15.442 ha menyebar di Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, Pasuruan dan Probolinggo. Sedangkan di Jawa Tengah seluas 43.435 ha yang menyebar di kabupaten Demak, Jepara, Rembang, Blora, Grobogan, dan Tegal. (3) Perbaikan teknik pengairan dan pemupukan akan meningkatkan produktivitas kapas yang diusahakan bersama kedelai di lahan sawah sesudah padi. Usahatani kapas dan kedelai memerlukan sekurang-kurangnya tiga kali pengairan yang diberikan pada saat kapas mulai membentuk kuncup bunga, mulai berbunga dan pada waktu puncak pembuahan. Pengurangan satu kali pengairan menyebabkan kerugian hasil kapas 300-400 kg/ha. (4) Penggunaan herbisida pra tumbuh oxyflourfen dengan dosis 1,25 l/ha dan penggunaan mulsa jerami padi sebanyak 5 t/ha mampu menekan gulma sampai umur enam minggu, sehingga hanya diperlukan penyiangan satu kali atau dengan kata lain mengurangi tenaga kerja untuk penyiangan sebanyak 50 persen dengan penghematan biaya sebesar Rp. 75.000,-. Penyemprotan herbisida oxyflourfen tidak menimbulkan keracunan pada tanaman kapas dan kedelai dan tidak mempengaruhi kualitas serat. Selain menggunakan herbisida, pada lahan kering penggunaan alat siang dari bajak yang ditarik sapi. Bila dibandingkan dengan penyiangan menggunakan cangkul, maka waktu penyiangan yang digunakan berkurang 87,5 persen, sedang kapas berbiji yang dihasilkan hanya menurun 15 persen (265 kg) per hektar (5). Pemberian pupuk kandang 2,5 t/ha dapat memperlambat perkembangan penyakit busuk buah, menurunkan serangan penyakit dari 40,12 persen menjadi 11,92 persen dan meningkatkan produksi kapas sebesar 30 persen (6) Tanaman mimba menghasilkan senyawa Azadirachtin yang sangat toksik bagi hama serangga sehingga mimba dapat digunakan sebagai insektisida nabati. Dosis serbuk biji mimba 15 g/l air efektif menekan padat populasi H. armigera dan S. litura sampai 55 persen dan tidak berpengaruh terhadap musuh alaminya (7) Penggunaan Nuclear Polyhydrosis Virus (NPV) yang diberi pelindung molasis 12 persen dapat menekan kerusakan buah kapas 25,2 persen dan meningkatkan produksi kapas berbiji sebesar 49,8 persen bila dibandingkan tanpa pelindung. (8) Bungkil biji kapas dapat digunakan untuk memperbaiki mutu pakan sapi perah laktasi. Penggunaan bungkil biji kapas sebanyak 20-30 persen sebagai sumber protein pakan sapi perah laktasi tidak berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu serta dapat menurunkan biaya pakan Rp. 40,49 - Rp. 41,46 atau (32-35 persen) untuk setiap liter susu. Selain itu dapat juga digunakan sebagai bahan pengganti bungkil kedelai dalam ransum ayam pedaging
اظهر المزيد [+] اقل [-]