[Cowpea (Vigna unguiculata) germplasm: cowpea and its potency in acid dry land]
2012
Trustinah (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
Kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp) umumnya ditanam petani di lahan kering sebagai sumber bahan pangan. Di Indonesia, kacang tunggak termasuk ke dalam tanaman kacang-kacangan minor. Secara alamiah kacang tunggak tergolong tanaman kacang-kacangan yang toleran terhadap kekeringan dan adaptif pada lahan kering masam. Biji kacang tunggak juga merupakan sumber protein yang baik (23,4 persen) dan kandungan lemak yang rendah pada biji (1,3 persen) memiliki arti penting pada penyimpanan dan pengolahan biji, terutama dalam mengurangi aroma dan citarasa yang tidak diinginkan. Sumber daya genetik kacang tunggak yang memiliki keragaman untuk hasil dan sifat lain seperti warna biji, ukuran biji, serta umur masak. Potensi hasil kacang tunggak berkisar 1,0 hingga 2,0 t/ha biji kering, tergantung varietas, lokasi, musim, dan cara budidaya. Hingga kini tersedia sembilan varietas kacang tunggak, umurnya berkisar 55-70 hari dan bertipe tegak. Pada lahan masam dengan kandungan Aluminium tinggi, hasil kacang tunggak dapat mencapai 1,43 t/ha dan dengan pengapuran dapat mencapai 1.79 t/ha. Budidaya kacang tunggak juga memberikan keuntungan dalam pencegahan erosi dan penyediaan bahan organik. Dengan telah tersedianya varietas disertai dengan cara budidaya dan manfaat kacang tunggak sebagai bahan pangan serta sifat alamiahnya yang tahan kering dan adaftif untuk lahan kering masam, maka budidaya kacang tunggak di lahan, kering memiliki harapan baik
اظهر المزيد [+] اقل [-]