Socio economic assessment of tuna and skipjack fisheries in Sorong, Irian Jaya [Indonesia]
1997
Sahari, D. | Irianto, B. | Lewaherilla, N. | Uhi, H.T.
إنجليزي. Tuna longline fishing and skipjak pole and line fishing have been long practiced in Eastern Indonesia, where about 70 percent of total Indonesian tuna and skipjack catch were originated from this region. Introduction of new fishing technique such as the use of FAD (Fish Aggregating Device) known as "Rumpon" had been started in this region by 1980s including in Sorong waters. The positive impacts of this new fishing technique were expected to be able to solve the problem facing the artisanal fisheries which was characterized by the lack of capital, technology and fishermen knowledge in addition to the lack of regional infrastructures. Like in other regions, tuna fishing using long line or hand line ("pancing tonda") and skipjack fishing using pole and line ("huhate"). The socioeconomic assessment of tuna and skipjack fisheries showed that, based on the need of capital, technology and the fishermen knowledge, liftnet and hand line fishing could categorized as artisanal fisheries while the pole and line fishing is categorized as industrial fisheries since it needs relatively high capital and technology. The assessment also showed that the frequency were about 43 percent and 60 percent for hand line and pole and line during West season (peak season) and about 23 percent and 43 percent in East season (off season). Financial analysis showed that the salary received by fishermen (labor) of all fishing gears were above the stated Regional Minimum Wage for the region. Further analysis also showed that all fishing gears were still under the "bionomic" equilibrium or "zero rent" although further deeper analysis should be made to see whether their fishing efforts were above or under the MSY. In general, the Nucleus Estate System between PT Usaha Mina as the nucleus and other institutions as the plasma have proved to be able to overcome the problem in local fisheries development (lack of capital, technology and marketing) which were apparently unsolvable solely by fishermen
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap longline dan cakalang dengan pole and line di Kawasan Timur Indonesia telah lama dikenal dimana sekitar 70 persen dari hasil tangkapan tuna dan cakalang di Indonesia berasal dari kawasan ini. Penerapan cara-cara penangkapan baru seperti penggunaan rumpon dan pengembangan model usaha perikanan rakyat dengan sistem PIR telah dilakukan di kawasan ini sejak tahun 1980an, diantaranya adalah yang dikembangkan di Sorong (Irian Jaya). Dampak positip penerapan teknologi tersebut diharapkan bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh usaha perikanan rakyat yang pada umumnya sulit berkembang karena kurangnya modal, teknologi dan pengetahuan nelayan disamping kurang lengkapnya sarana infrastruktur di daerah. Seperti di daerah lainnya, perikanan tuna dan cakalang melibatkan tiga jenis usaha penangkapan yaitu usaha penangkapan ikan umpan dengan alat tangkap bagan, penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap pancing tonda dan penangkapan ikan cakalang dengan alat tangkap "pole and line" atau "huhate". Hasil pengkajian sosial ekonomi pada pengusahaan perikanan tuna dan cakalang di Sorong memperlihatkan bahwa berdasarkan kemampuan modal, tingkat pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh nelayan, maka usaha penangkapan bagan dan pancing tonda bisa dikategorikan sebagai perikanan rakyat, sedangkan usaha penangkapan dengan pole and line dikategorikan sebagai usaha perikanan industri karena memerlukan modal yang besar dan tingkat teknologi yang cukup tinggi. Frekuensi melaut dalam penangkapan tuna maupun cakalang sangat ditentukan oleh musim yaitu musim Barat (musim puncak) dan Timur (musim paceklik) dengan masing-masing frekuensi melaut pada saat musim puncak sekitar 43 persen dan 60 persen setiap bulan dan saat paceklik sekitar 23 persen dan 43 persen. Analisis finansial memperlihatkan bahwa penerimaan nelayan untuk semua jenis alat tangkap pada umumnya sudah di atas nilai UMR (Upah Minimum Regional) yang berlaku di daerah tersebut. Analisis selanjutnya juga memperlihatkan bahwa semua jenis kegiatan penangkapan yang terlibat dalam usaha perikanan tuna dan cakalang tersebut masih dibawah titik kesetimbangan "bionomic" atau "zero rent" walaupun masih diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk mengetahui apakah upaya penangkapan berada di atas atau di bawah MSY. Secara umum, pola kemitraan antara PT Usaha Mina sebagai inti dan beberapa institusi lainnya sebagai plasma terbukti mampu mengatasi permasalahan pengembangan usaha perikanan daerah yaitu keterbatasan modal, teknologi dan pemasaran yang tidak akan mungkin mampu diatasi sendiri oleh nelayan
اظهر المزيد [+] اقل [-]