[Agroclimate of groundnut and plantation performance in Indonesia]
1996
Karsono, S. (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
إنجليزي. Groundnut is widely grown on various agroecological zone from 40 degree North to 40 degree South. The average annual temperature from 2-7 degree C and 25-27 degree C. Total annual rainfall from 450-700 mm and 1030 mm - more than 2000 mm. The crop is grown on many kind of soil types such as Alfisol, Vertisol, Luvisol, Fluvisol, Oxisol, Ultisol, Regosol, Podzol and Latosol. To maintain the yield stability of groundnut, around 428-631 mm of rainfall is needed. In Indonesia groundnut are cultivated on six agroecological zone and the major groundnut producing areas are located in Java, Sumatra, Sulawesi, Bali and Nusa Tenggara island. Groundnut cultivation mostly done during the wet season (64 percent) and the other are done during dry season (36 percent). In rainfed dryland, groundnut is grown in the early rainy season (October-January) or during the late rainy season (February-March). In irrigated rainfed wetland it is grown in the early dry season (April-June) or late dry season (July-September). Uncertain rainfall pattern or drought condition, low irradiation and high temperature during crop growth are the factors that cause the groundnut productivity in Indonesia is still low. In effort to increase groundnut yield, more information is needed especially combination between irradiation and ambient temperature on various agroecological zone. Therefore irrigated wetland which does no have sufficient water for rice cultivation is potential for groundnut development
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Kacang tanah ditanam pada berbagai agroekologi mulai 40 derajat Lintang Utara sampai 40 derajat Lintang Selatan dengan suhu udara rata-rata tahunan 2-7 derajat C dan 25-27 derajat C. Total curah hujan rata-rata tahunan 450-700 mm dan 1.030 mm - lebih dari 2.000 mm, dengan jenis tanah Alfisol, Vertisol, Luvisol, Fluvisol, Oksisol, Regosol dan jenis tanah merah lainnya seperti Podsolik Merah Kuning dan Latosol. Curah hujan 428-631 mm dan menyebar merata selama musim pertanaman diperlukan untuk menjaga stabilitas hasil. Terdapat enam agroekologi pertanaman kacang tanah di Indonesia: Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara merupakan penghasil kacang tanah utama. Kacang tanah sebagian besar ditanam pada musim hujan (64 persen) dan musim kemarau (36 persen). Di lahan kering tadah hujan kacang tanah ditanam pada awal (Oktober-Januari) atau menjelang akhir musim hujan (Februari-Maret). Di lahan sawah irigasi/tadah hujan kacang tanah ditanam pada awal (April-Juni) atau musim kemarau lambat (Juli-September). Di samping curah hujan yang tidak menentu atau kekeringan, radiasi matahari yang rendah dan suhu yang tinggi merupakan salah satu penyebab rendahnya hasil kacang tanah di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan keterangan lebih lanjut antara kombinasi radiasi matahari dan suhu lingkungan yang tepat pada berbagai lingkungan agroekologi dalam usaha meningkatkan hasil kacang tanah. Pengembangan kacang tanah selanjutnya diarahkan pada lahan kering iklim kering, lahan kering iklim basah (setelah padi gogo) dan lahan sawah irigasi yang tanahnya sesuai dan air tidak cukup untuk tanaman padi berikutnya
اظهر المزيد [+] اقل [-]