Groundnut farming system in the agribusiness perspective in Indonesia
1996
Gaybita, M.N. (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, Jakarta (Indonesia))
إنجليزي. Groundnut production in Indonesia during the last years could not met the domestic demand and it tended to decreased 0.26 percent annually. However, during this periods, the harvested area was increased by 0.81 percent per annum. Consequently, groundnut import continuously increased from 49,768 ton (22,482,131 US$) in 1990 became 150,901 ton (89,818,360 US$) in 1994. The main production of groundnut in Indonesia is in Java, with 68 percent of total areas production. East Java, Central Java and West Java are main groundnut areas production in Java. Simple economic studies in Java indicated that groundnut farming provided more income to farmer compared to soybean, mungbean and maize farming. By the R/C of groundnut farming of 1.59 and real R/C of 2.7, the investment of groundnut was relatively good compared to other secondary food crops. The price of groundnut usually begin to increase from October to March since then the price decrease until July. Rearrangement of cropping pattern and improving groundnut during the off season (August to December) could be suggested to minimize the fluctuation of groundnut price. Considering the free trade of ASEAN and APEC countries in 2003 and 2020, respectively, it is aware challenging to increase the efficiency in the country in order to complete in the international market. The entrance fee (tariff of import) of groundnut was 25 percent in 1995 and it would be 20 percent in 1996 and 0 percent in end of year 2020. The market cost of groundnut was 17 percent higher than the other food crops which ranged from 5 percent to 10 percent, Therefore, some effort should be taken to minimize those groundnut market structure and the oligopolistic. In the oligopolistic market structure, the position of farmer is powerless, so that, farmer as a producer get low price. The making of group farmer to marketing and the existing of partnership between farmer and trader or producer of groundnut could increase the bargaining position of farmer. Changes in the structure of oligopolistic could be suggested to improving farmer status in the agribusiness of groundnut in Indonesia
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Produksi kacang tanah di Indonesia selama lima tahun terakhir belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengalami rata-rata penurunan 0,26 persen, meskipun pada periode tersebut luas panen meningkat 0,81 persen/tahun. Penurunan produksi kacang tanah disebabkan oleh penurunan produktivitas kacang tanah. 1,01 persen/tahun. Impor kacang tanah terus meningkat dari tahun 1990 sebesar 49.768 ton (22.482.131 USD) menjadi 150.901 ton (89.818.360 USD) pada tahun 1994. Daerah produksi kacang tanah masih didominasi oleh pulau Jawa, yaitu 68 persen dari total produksi nasional. Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat merupakan sentra produksi utama kacang tanah. Dibandingkan dengan tanaman kedelai, jagung dan kacang hijau, usahatani kacang tanah memberikan pendapatan paling tinggi baik secara usahatani maupun secara riil yang diterima petani. Dengan R/C usahatani 1,59 dan R/C riil 2,70, maka investasi dibidang budidaya kacang tanah mempunyai prospek yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas palawija lainnya. Pola perkembangan harga kacang tanah di berbagai kota propinsi di Indonesia relatif sama. Harga kacang tanah mulai naik pada bulan Oktober sampai dengan Desember dan pada bulan Maret harga masih tinggi. Penurunan harga terjadi pada bulan Maret hingga Juli. Fluktuasi harga kacang tanah mengundang spekulan memainkan harga. Penyesuaian pola tanam dan pengaturan impor kacang tanah pada saat "of season", yakni pada bulan Agustus dan Desember merupakan cara untuk mengatasi fluktuasi harga tersebut. Perdagangan bebas tanpa tarif dan quota di antara negara-negara ASEAN dimulai tahun 2003 dan diantara negara-negara APEC dimulai tahun 2020 merupakan tantangan untuk meningkatkan efisiensi dalam negeri agar dapat bersaing di pasaran international. Bea masuk kacang tanah tahun 1995 adalah 25 persen dan tahun 1996 diusulkan turun menjadi 20 persen. Besar kecilnya impor kacang tanah berhubungan dengan keadaan produksi kacang tanah di Indonesia. Biaya pemasaran kacang tanah 17 persen lebih tinggi dari komoditas palawija lainnya yang berkisar dari 5 persen hingga 10 persen. Karenanya perlu adanya upaya menekan komponen biaya pemasaran kacang tanah. Selain itu struktur pasar komoditas kacang tanah cenderung oligopolistik. Dengan struktur pasar yang oligopolistik, maka kedudukan petani menjadi lemah sehingga harga yang diterima petani menjadi rendah. Pemasaran secara berkelompok, adanya sistem kemitraan antara petani dengan pabrik pengolah/pengupas kacang tanah dengan menetapkan harga kesepakatan merupakan upaya untuk meningkatkan posisi tawar menawar petani atau merubah struktur pasar oligopolistik
اظهر المزيد [+] اقل [-]