Providing 'free' aflatoxin raw materials to support the developing of peanut agroindustry
1996
Ginting, E. (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia)) | Beti, J.A.
إنجليزي. Providing acceptable peanut is must as consequences of demand increases especially for industrial purposes. According to FAO, the maximum level of aflatoxin content of acceptable peanut is less than 30 ppb. Field and post harvest contamination are responsible for aflatoxin incidence on peanut. In the field, aflatoxin contamination is stimulated with drought, high temperature, calcium deficiency, and pest and disease problems. While after harvest, contamination is enhanced with improper harvesting time and handling, stripping, drying, shelling and storage which induced high moisture content and percentage of grain damage and debris. Aflatoxin contamination mostly build up during storage and trading time as aflatoxin is not controlled properly. A survey conducted in three markets in Bogor found that 80 percent of peanut samples taken with moisture content of 3.6-11 percent contained aflatoxin B1 as much 0-1154 ppb. The experiment carried out in Indonesia showed that grain peanut with initial moisture content of 15 percent kept in open trays and in yute bags for one month had already contaminated with aflatoxin B1 in the lethal level. Based on the cropping systems and marketing flow from farmer to peanut users, it is found three main problems in providing peanut 'free' aflatoxin. These are field drought, harvesting and further handling during rainy season, and length of duration time in the storage and trading. To overcome the aflatoxin problem on peanut, for preharvest control purposes it is recommended to irrigate the plants up to 20 days before harvest, applied adequate fertilizer, to plant resistant varieties to drought. For post harvest control purposes, it is suggested to harvest the plants on optimum maturity, and to keep moisture content of the grain less than 9 percent and percentage of damage kernel less than 2 percent during drying to storage by means of proper techniques and equipments used and proper storage handling (27 degree C, R.H. 65-70 percent, and free from pests and diseases). Higher price for acceptable peanut wil be a stimulator for farmer and trader to control aflatoxin contamination in peanut
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Seiring dengan meningkatnya permintaan kacang tanah untuk keperluan industri, maka diperlukan upaya penyediaan bahan baku yang memenuhi standar kualitas. Salah satu diantaranya adalah kandungan aflatoksin yang menurut FAO maksimum sebesar 30 ppb. Kontaminasi aflatoksin dapat terjadi sejak tanaman masih berada di lapang sampai dengan penyimpanan. Di lapang, kontaminasi aflatoksin lebih mudah terjadi pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, suhu tinggi, kekurangan Ca dan terserang hama dan penyakit. Sedang dalam penanganan pasca panennya, waktu dan cara panen, pengeringan, perontokan, pembijian dan penyimpanan yang kurang tepat yang berakibat pada tingginya kadar air, tingkat kerusakan biji dan kotoran akan memacu pertumbuhan jamur A. flavus penghasil aflatoksin. Pada penyimpanan, terutama selama dalam pemasaran dan sebagai cadangan bahan baku industri, peluang terjadinya kontaminasi aflatoksin semakin besar bila tanpa pengendalian. Hasil sigi kacang tanah yang dijual secara eceran di 3 pasar di Bogor, menunjukkan bahwa 80 persen contoh dengan kadar air 3,6-11 persen mengandung aflatoksin B1 sebesar 0-1154 ppb. Penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa kacang tanah dengan kadar air awal 15 persen dalam wadah terbuka dan karung goni selama 1 bulan, telah terkontaminasi aflatoksin B1 pada tingkat yang membahayakan. Berdasarkan pola tanam umum petani dan jalur pemasaran dari petani sampai pengguna, masalah yang dihadapi dalam penyediaan bahan baku kacang bebas aflatoksin di Indonesia adalah tanaman mengalami kekeringan sewaktu di lapang, pemanenan yang bersamaan dengan musim hujan dan lamanya waktu simpan pada tingkat pedagang pengumpul/besar dan prosesor. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengendalian melalui budidayanya, yaitu pengairan sampai dengan 20 hari sebelum panen, pemupukan optimal serta menanam varietas yang tahan kekeringan. Dalam penanganan pasca panennya, tanaman dipanen tepat pada saat masak optimum, dari proses pengeringan sampai penyimpanan dijaga agar kadar air biji 9 persen dan tingkat biji rusak 2 persen melalui penerapan teknik dan alat yang tepat serta kondisi penyimpanan yang sesuai (suhu 27 derajat C, RH 65-75 persen, bebas kotoran serta hama dan penyakit gudang). Selain itu, adanya insentif atau harga jual yang lebih tinggi untuk kacang tanah yang memenuhi standar mutu akan memacu petani dan pedagang untuk melakukan pengendalian kontaminasi aflatoksin
اظهر المزيد [+] اقل [-]