Management of waste in intensive tiger prawn (Penaeus monodon) culture
1998
Pirzan, A.M. (Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros (Indonesia))
إنجليزي. Without any sound management, the more rapid development of the intensive shrimp culture will bring about heavy pollution in the brackishwater pond and may decrease environment quality. The waste input rate can be identified by measuring dry matter weight of the waste/m/day using bottle sample (one liter capacity) placed at bottom of the pond. Removal of the sediment before becoming anaerobic that impedes of the shrimp growth can be prevented. To eliminate the effect of the waste in the brackishwater pond can be conducted by using methods : 1. resuspend waste (sediment) by using paddle well than expel it through the water exchange, 2. accelerate decomposition process by adding dissolved oxygen in the water pond, 3. use biofilter organism of high absorption rate of waste matters and handle the reservoir by using physical, chemical, and biological treatments or their combination. Management of the wastes using reservoir with biofilter and recirculation combinations have been developed to minimize decreasing of an environment quality. An application of biofilter organism (oyster, mangrove clam) reduced plankton abundance (29,40 percent) and number of bacteria (35,20 percent in average). Based on the experience of shrimp culture practices during more than one decade, this information can be very helpful in planning intensive shrimp culture in the future
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Tanpa pengelolaan yang baik perkembangan budidaya udang intensif yang semakin pesat akan meningkatkan pencemaran hamparan tambak yang disebabkan oleh limbah budidaya udang itu sendiri yang pada akhirnya akan mengarah kepada penurunan kualitas lingkungan. Kecepatan pemasukan limbah dapat diketahui dengan mengukur berat bahan kering limbah/m/hari. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan botol contoh bermulut lebar berkapasitas satu liter yang ditempatkan pada dasar tambak dimana titik pembentukan sedimen terjadi. Pembuangan sedimen dilakukan sebelum bahan tersebut menjadi anaerobik, agar pertumbuhan udang tidak terhambat. Untuk menghilangkan pengaruh limbah dari tambak dapat dilakukan dengan cara: 1. membuang limbah dengan meresuspensinya melalui pergantian air dengan bantuan kincir, 2. mempercepat proses dekomposisi dengan memperkaya oksigen terlarut di seluruh lapisan air di dalam tambak, 3. menggunakan organisme biofilter yang memiliki daya serap tinggi terhadap bahan limbah, dan 4. memanfaatkan bak tandon dengan perlakuan fisika, kimia, dan biologi atau kombinasinya. Penanganan limbah menggunakan tandon dengan kombinasi biofilter dan sirkulasi sementara dikembangkan untuk menanggulangi penurunan kualitas lingkungan yang terjadi. Penggunaan biofilter tiram dan kerang bakau telah mampu menurunkan kelimpahan plankton sebesar 29,40 persen dan jumlah bakteri rata-rata 35,20 persen. Pengalaman budidaya udang selama kurun waktu lebih dari satu dekade kiranya dapat dijadikan bahan informasi yang berharga untuk perencanaan budidaya intensif di masa mendatang
اظهر المزيد [+] اقل [-]