[Strategy of integrated Fasciolosis control by Fasciola gigantica on animal rearing in farm land using irrigation intensive system]
1998
Suhardono | Widjajanti, S. | Partoutomo, S. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))
الأندونيسية. Sistem usaha penanaman padi irigasi merupakan sebagian besar usaha pertanian yang ada di negara kita. Lahan tanaman padi yang diairi, juga menyediakan habitat yang cocok bagi biota lain untuk tumbuh dan berkembang dengan subur, seperti siput Lymnaea rubiginosa, siput ini berperan sebagai induk semang antara cacing Fasciola gigantica. Penggunaan ternak sapi dan kerbau di dalam menunjang usaha pertanian, juga tidak terjadi begitu saja melainkan melalui suatu proses evolusi yang cukup panjang. Interaksi antara usaha penanaman padi irigasi dengan penggunaan ternak sebagai sumber tenaga dan pupuk, serta tingginya populasi siput L. rubiginosa mengakibatkan persistensi kejadian fasciolosis pada ternak pada ekosistem seperti ini. Kejadian fasciolosis oleh F. gigantica di Indonesia yang berkisar antara 42-100 persen pada ternak menyebabkan kerugian ekonomi yang besar (Rp. 513 milyar/tahun), karena penyakit ini dapat menyebabkan kematian, penurunan tingkat produksi dan reproduksi serta tenaga kerja. Oleh karena itu, perlu diupayakan pola penanggulangan fasciolosis terutama di daerah pedesaan yang populasi ternaknya sebagian besar tersebar di sini. Dengan memahami sifat-sifat biologi dari cacing hati (telur, larva dan cacing dewasa) dan siput L. rubiginosa (populasi, distribusi dan infeksi oleh larvae cacing hati) yang dikaitkan dengan tatalaksana penanaman padi, penyediaan pakan hijauan dan sistem pengandangan ternak, akan dapat diformulasikan pola pengendalian fasciolosis secara terpadu. Program pengendalian tersebut meliputi pengobatan dan pencegahan terjadinya infeksi pada ternak. Pencegahan dilakukan dengan cara perbaikan tatalaksana sistem perkandangan, penanganan limbah kandang dan penyediaan pakan hijauan untuk ternak. Pengendalian penyakit dengan cara pemberian obat cacing dilakukan setahun sekali pada musim kemarau; tergantung dari jenis obat cacing yang digunakan, pengobatan dapat dilakukan antara 6 minggu setelah panen padi terakhir hingga beberapa minggu sebelum musim penghujan tiba. Tidak mendirikan kandang bersebelahan dengan sawah/saluran irigasi. Hindarkan penggunaan limbah kandang yang masih segar sebagai pupuk, kecuali sudah dikomposkan. Penyediaan pakan hijauan yang lebih selektif terutama pada musim penghujan (dimana ternak terutama mendapatkan infeksi pada musim panen padi) dengan menghindari penggembalaan/pengambilan hijauan di lahan tercemar (sawah sekitar kandang dan/atau dekat dengan pemukiman). Program pengendalian infeksi cacing hati pada ternak akan lebih berhasil bila didukung oleh Pemerintah melalui penyuluhan-penyuluhan, pembentukan kelompok-kelompok peternak dan ketersediaan obat yang cukup
اظهر المزيد [+] اقل [-]