Daya Saing Bawang Putih di Indonesia
2022
Septiana, Bella | Kusnadi, Nunung | Fariyanti, Anna
إنجليزي. Demand for garlic in Indonesia tends to increase, but only a little (< 5 percent) of it was met by national production. This study aims to analyze the competitiveness of Indonesian garlic and identify its determinants. Data used on garlic farming was obtained from the Agricultural Census 2013-Central Bureau of Statistics (BPS), consisting of 121 sample farmers in West Nusa Tenggara province and 98 farmers in Central Java province. The Policy Analysis Matrix (PAM) method was used to measure comparative and competitive advantages which were grouped according to the technical efficiency of production. Efficiency is estimated by the Data Envelopment Analysis (DEA) method. The results showed that garlic has a comparative and competitive advantage in only 55 percent of the total sample. The comparative and competitive advantages of garlic were significantly determined by the technical efficiency of production. Further analysis showed that the competitiveness of Indonesian garlic was sensitive to changes in productivity and output prices. Productivity is the most decisive factor in the competitiveness of Indonesian garlic. Government policies related to input prices and output prices caused farmers to pay lower input prices and accepted output prices higher than their social prices. From this study can be concluded that in general Indonesian garlic was not competitive being produced domestically. Garlic can be produced domestically as an import substitution if it is produced with high productivity and efficiency. It is recommended to improve the technical efficiency of production by utilizing the potential land and technology production optimally.
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Permintaan bawang putih di Indonesia cenderung meningkat, tetapi kurang dari lima persen dari permintaan tersebut dipenuhi oleh produksi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing bawang putih Indonesia dan mengidentifikasi faktor penentunya. Data yang digunakan adalah data usahatani bawang putih yang diperoleh dari Sensus Pertanian 2013-Badan Pusat Statistik (BPS), yang terdiri dari 121 sampel petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan 98 petani di Provinsi Jawa Tengah. Metode Policy Analisis Matrix (PAM) digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif dan kompetitif yang dikelompokkan sesuai dengan tingkat efisiensi teknis produksi yang diperkirakan oleh metode Data Envelopment Analysis (DEA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bawang putih Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif hanya sebesar 55 persen dari total sampel dari usahatani bawang putih. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif bawang putih secara signifikan ditentukan oleh efisiensi teknis produksi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa daya saing bawang putih Indonesia peka terhadap perubahan produktivitas dan harga output. Daya saing tertinggi dicapai melalui perubahan signifikan pada produktivitas bawang putih lokal. Kebijakan pemerintah terkait harga input dan harga output menyebabkan petani membayar harga input yang lebih rendah dan menerima harga output yang lebih tinggi dari harga sosialnya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum bawang putih Indonesia tidak kompetitif untuk di produksi di dalam negeri. Bawang putih dapat di produksi secara domestik sebagai produk substitusi impor jika di produksi dalam produktivitas tinggi dan usahatani yang efisien secara teknis. Saran dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan usahatani bawang putih disertai dengan perbaikan dalam efisiensi teknis produksi.
اظهر المزيد [+] اقل [-]