Analisis Perbandingan Produktivitas Tanaman Durian (Durio Zibethinus) Antara Indonesia dan Malaysia : Studi Deskriptif Kuantitatif Berdasarkan Data Tahun 2019–2023 | Artikel Ilmiah Agribisnis Analisis Perbandingan Produktivitas Tanaman Durian (Durio zibethinus) antara Indonesia dan Malaysia: Studi Deskriptif Kuantitatif Berdasarkan Data Tahun 2019–2023
2025
Ardilla, Riska | Lubis, Wildani | Nik Mohd Masdek, Nik Rozana
إنجليزي. This study aims to analyze the comparison of durian (Durio zibethinus L.) productivity between Indonesia and Malaysia based on secondary data from 2019 to 2023. A quantitative descriptive method was applied by calculating the ratio between total production (tons) and cultivated area (hectares). The results indicate that although Indonesia has a much larger cultivation area, averaging 10.69 million hectares, its productivity remains low at around 0.11–0.16 tons/ha. In contrast, Malaysia, with an average of only 76 thousand hectares, achieved a significantly higher productivity level of 5.08–5.56 tons/ha. This difference is mainly due to the use of certified superior varieties such as Musang King, the implementation of intensive cultivation systems and modern agricultural technologies, and strong institutional support through national policies. Meanwhile, Indonesia’s durian productivity is still constrained by the use of uncertified seedlings, traditional farming techniques, and inefficient post-harvest management. The study concludes that improving durian productivity in Indonesia requires the strengthening of technological innovation, certified superior variety development, and the establishment of an integrated and sustainable agribusiness system to enhance competitiveness in the international market.
اظهر المزيد [+] اقل [-]الأندونيسية. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif tingkat produktivitas tanaman durian ( Durio zibethinus ) di Indonesia dan Malaysia selama periode 2019–2023. Penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Kementerian Pertanian Indonesia, Institut Penyelidikan dan Kemajuan Pertanian Malaysia (MARDI), Jabatan Pertanian Malaysia, serta berbagai publikasi terkait ilmiah. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan fokus pada perhitungan produktivitas berdasarkan rasio antara total produksi dengan luas lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki luas lahan durian yang jauh lebih besar, berkisar 9,25–11,72 juta hektar, dengan tren produksi yang meningkat signifikan hingga 1,85 juta ton pada tahun 2023. Namun demikian, produktivitasnya relatif rendah, yakni hanya 0,11–0,16 ton per hektar. Sebaliknya, Malaysia yang memiliki luas lahan terbatas (61–87 ribu hektar) mampu mencapai produktivitas yang jauh lebih tinggi dan stabil, yaitu 5,08–5,56 ton per hektar, atau sekitar 30–50 kali lipat dibandingkan Indonesia. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pemanfaatan bibit unggul bersertifikat, penerapan sistem budidaya intensif, serta dukungan penelitian dan kebijakan pemerintah di Malaysia, sedangkan praktik budidaya di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan bibit asalan dan teknik tradisional dengan pemeliharaan minimal. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan inovasi teknologi, perbaikan manajemen budidaya, serta pengembangan infrastruktur pascapanen di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing durian. Penelitian juga merekomendasikan kolaborasi bilateral Indonesia dengan Malaysia dalam bidang penelitian varietas unggul, transfer teknologi budidaya, dan strategi diversifikasi pasar guna memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai pusat produksi durian global.
اظهر المزيد [+] اقل [-]الكلمات المفتاحية الخاصة بالمكنز الزراعي (أجروفوك)
المعلومات البيبليوغرافية
تم تزويد هذا السجل من قبل State University of Medan