[Rural population density and depopulation on land in rural areas of Bantul, Yogyakarta (Indonesia)]
1999
Rijanta, R. | Prakoso, B.S.E. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (Indonesia). Fakultas Geografi)
Indonesian. Depopulasi pedesaan atau menurunnya jumlah absolut penduduk pedesaan merupakan fenomena baru dalam sejarah kependudukan Indonesia. Fenomena ini mulai terlihat nyata di DIY sejak tahun 1990an. Sejauh ini belum ada penelitian yang menelaah hubungan antara depopulasi pedesaan sebagai wujud perubahan perilaku reproduksi dan migrasi penduduk di satu pihak dengan arah dan intensitas penggunaan lahan pedesaan di lain pihak sebagai wujud perubahan lingkungan binaan. Selanjutnya pertanyaan tentang konsekuensi depopulasi terhadap perbaikan kesejahteraan penduduk pedesaan juga penting dicari jawabannya, sebab selama ini berbagai kebijakan kependudukan umumnya berasumsi jumlah penduduk yang kecil merupakan prakondisi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menyusun tipologi daerah pedesaan menurut tingkat depopulasinya, (2) mengenali determinasi-determinasi depopulasi pedesaan pada tingkat regional. Selanjutnya berdasarkan tipologi yang tersusun akan dilakukan penelitian pada tingkat rumahtangga untuk mengetahui: (1) faktor-faktor internal pada tingkat rumahtangga yang mendorong terjadinya depopulasi, (2) konsekuensi depopulasi pedesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan pedesaan pada tingkat rumahtangga dan (3) konsekuensi depopulasi pedesaan pada tingkat kesejahteraan rumahtangga. Studi penyusunan tipologi pedesaan menurut tingkat depopulasinya akan memanfaatkan data sekunder BPS dan data primer disertai observasi lapangan dengan teknik rapid rural appraisal (RRA). Dalam penyusunan tipologi pedesaan dan pengenalan determinan depopulasi pedesaan pada tingkat regional digunakan metode pemetaan dan tumpang-susun peta dalam rangka mengenali hubungan relasional secara spasial dengan bantuan teknologi Sisten Informasi Geografi (GIS). Survai rumah tangga dilakukan pada desa-desa yang dipilih berdasarkan hasil tipologi di atas. Survei rumahtangga ini diperlukan untuk menjelaskan berbagai faktor internal yang mendorong rumahtangga pedesaan mengalami depopulasi dan mengenali konsekuensi depopulasi pedesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan. Analisis statistik baik yang bersifat diskriptif maupun relasional akan dipergunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keruangan wilayah pedesaan di Kabupaten Bantul yang mengalami depopulasi berbentuk dua buah gugus, yaitu: (a) satu gugus besar di wilayah dataran rendah yang meliputi Kecamatan Tirtohargo, Srigading, Bambanglipuro, Srandakan, Pundong dan sebagian Imogiri dan (b) satu buah gugus kecil di sekitar Kecamatan Dlingo. Terdapat empat macam faktor yang menentukan terjadinya depopulasi pedesaan di Kabupaten Bantul, yaitu: (a) faktor fisik alamiah yang berupa kerentanan wilayah terhadap bencana alam banjir dan kekeringan, (b) tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, (c) isolasi wilayah yang tercermin dari sulitnya interaksi dengan Kota Yogyakarta sebagai pusat penyedia kesempatan kerja non pertanian serta (d) terjadinya migrasi keluar yang besar sebagai akibat dari sempitnya kemungkinan melakukan mobilitas non-permanen ke kota secara efisien. Depopulasi pedesaan pada tingkat rumahtangga terjadi karena rendahnya tingkat kelahiran dan kematian selama lima belas tahun terakhir disertai dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi pula. Menurunnya jumlah absolut penduduk pedesaan pada tingkat rumahtangga ditangkap sebagai peluang untuk melonggarkan tekanan subsistensi dalan rangka menuju komersialisasi pertanian pada skala usaha yang amat kecil. Konsekuensinya depopulasi pedesaan tidak diikuti dengan penurunan tekanan penduduk atas lahan, tetapi sebaliknya justru diikuti peningkatan intensitas tanam penggunaaan masukan dan teknologi modern serta pemanfaatan tenaga kerja luar keluarga, sebagai suplemen kecilnya jumlah tenaga kerja rumahtangga. Meskipun secara sosial-ekonomi depopulasi telah mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun keberlanjutan kegiatan komersialisasi ini perlu dipertanyakan
Show more [+] Less [-]AGROVOC Keywords
Bibliographic information
This bibliographic record has been provided by Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination