The response of sweet potato promising lines to sweet potato weevil infestation
2000
Supriyatin | Jusuf, M. (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
English. Sweet potato weevil (SPW), Cylas formicarius is the most important pest on sweet potato grown in dryland area. The insect attacks the tuber either in the field or in storage. The fortuous feeding tunnels are filled with excrement, which is characterized by terpene odor in slightly damaged tubers, bitter taste, and therefore they unfit for human consumption. Screening sweet potato clones for SPW was conducted at Muneng Experimental Station in dry season 1999. The experiment was arranged in a split plot design, protection and without protection as main plot and 51 of sweet potato clones as subplot. At harvesting time, 1 kg tubers was taken from each clone, kept in the storage for 30 days, and the total SPW population was counted. The result indicated that there was no interaction between type of protection and clones to root damage, SPW population and tuber yield. All tested clones were attacked by SPW; 25, 21 and the rest of the clones had 26-50 percent, 51-75 percent and higher than 75 percent root damage, respectively. Five clones MSU 101-4, MSU 108-2, B0053-9, Mis 159-3 were categorised as resistant clones. Twenty two clones were categorised as moderately resistant, and the rest were susceptible and highly susceptible. The highest fresh tubers production, 14.68 t/ha was obtained by MSU 111-1 and followed by MSU 113-10 with 13.66 t/ha
Show more [+] Less [-]Indonesian. Hama boleng, Cylas formicarius merupakan hama penting pada ubijalar khususya di lahan kering. Serangga dapat menyerang umbi baik di lapangan maupun di dalam penyimpanan. Di lapangan, serangga betina meletakkan telur pada batang atau umbi yang muncul di permukaan tanah. Larva berwarna putih, tidak berkaki, makan dan berkembang di dalam umbi. Umbi yang terserang akan berlubang-lubang kecil, mengeluarkan bau khas, pahit rasanya, dan tidak dapat dikonsumsi. Penelitian evaluasi ketahanan klon-klon ubijalar terhadap hama boleng telah dilakukan di Inlitkabi Muneng pada MK 1999, menggunakan rancangan petak terpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah pengendalian dan tanpa pengendalian, dan sebagai anak petak adalah 51 klon ubijalar. Pengendalian dilakukan dengan pencelupan stek sebelum tanam ke dalam larutan karbosulfan, dan aplikasi dengan ekstrak biji mimba pada umur 45 hari. Pengamatan dilakukan terhadap umbi terserang dan umbi pada saat panen. Selain itu diamati pula jumlah Cylas pada 1 kg umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara pengendaliaan hama dengan klon ubijalar terhadap kerusakan dan hasil umbi. Semua klon yang diuji terserang hama boleng, 25 klon dengan kerusakan umbi 26-50 persen, 21 klon dengan kerusakan 50-75 persen, dan 5 klon dengan kerusakan umbi lebih dari 75 persen. Derajat ketahanan masing-masing klon adalah 5 klon dinyatakan tahan, 22 klon dinyatakan agak tahan, dan sisanya tergolong peka dan sangat peka. Klon-klon yang dinyatakan tahan adalah MSU 101-4, MSU 108-2 B0053-9 Mis 110-1 dan Mis 159-3. Hasil umbi basah tertinggi sebanyak 14,68 t/ha pada klon MSU 111-1 diikuti oleh klon MSU 113-10 dengan hasil umbi 13,68 t/ha
Show more [+] Less [-]AGROVOC Keywords
Bibliographic information
This bibliographic record has been provided by Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination