[Performance comparison of feederstock ex-import and local on feedlot condition]
1998
Sitepu, P. (Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor (Indonesia))
Indonesio. Keberhasilan pembangunan selama PJPT I memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat yang pada tahun 1996 mencapai US$ 1000. Peningkatan pendapatan tersebut secara langsung berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat antara lain peningkatan permintaan terhadap daging sapi. Kondisi tersebut telah memacu perkembangan usaha penggemukan sapi potong komersial. Salah satu masalah dalam usaha tersebut adalah ketergantungan perusahaan terhadap sapi bakalan dari Australia, yang pada tahun 1995 jumlah impornya mencapai 224.000 ekor. Untuk mengatasi hal tersebut potensi sapi potong lokal perlu dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mnegetahui perbandingan performan biologis dan ekonomis antara sapi bakalan lokal dan eks-impor. Sebanyak 45 ekor sapi masing-masing terdiri dari Shorthorn (SHR 13 ekor); Brahman cross (BX, 14 ekor); Ongole (SO, 10 ekor) dan Holstein (FH, 8 ekor) diamati dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh adalah sbb: (1) Breed sapi berpengaruh terhadap level Hb dan PCV. Sapi jenis FH cenderung memiliki Hb dan PCV yang lebih rendah dibandingkan dengan ketiga breed lainnya, baik pada awal maupun akhir penelitian. (2) Level konsentrat berpengaruh tidak nyata terhadap kenaikan ADG. Perbedaan level konsentrat sebesar 3 kg/ekor/hari hanya meningkatkan ADG sebesar 0,09 kg. Rata-rata ADG pada group yang menerima 5 kg konsentrat adalah 0,71 +- 0,05. sedangkan group yang menerima 8 kg konsentrat adalah sebesar 0,80 +- 0,06. Dibandingkan dengan breed lainnya, sapi FH menghasilkan ADG tertinggi (1,03 +- 0,08) kemudian diikuti oleh BX (0,91 +- 0,08); SO (0,75 +- 0,04) dan yang terendah SHR (0,59 +- 0,09) pada level konsentrat 8 kg/ekor/hari. Dengan pemberian konsentrat sebanyak 5 kg/ekor/hari, sapi BX menghasilkan ADG yang tertinggi (0,84 +- 0,06), kemudian berturut-turut disusul oleh FH (0,76 +- 0,12); SO (0,72 +- 0,06) dan SHR (0,55 +- 0,12). Secara rata-rata sapi FH mengkonsumsi rumput lebih rendah dibandingkan dengan ketiga breed lainnya, sedangkan total feed intake (DM) berkisar antara 2,0-2,8 persen dari berat badan kecuali sapi SHR yang memperoleh konsentrat 5 kg, mengkonsumsi pakan relatif rendah (1,8 persen dari berat badan). Terdapat interaksi antara breed dengan level konsentrat. Pada ransum dengan konsentrat 8 kg/ekor/hari sapi FH memiliki feed efisiensi yang tertinggi (12,22 persen) dan yang tertinggi dihasilkan oleh BX (12,61 persen). Sapi jenis SHR memiliki feed efisiensi terendah (6,86 s/d 8,33 persen). Sapi lokal (SO) memiliki persentase karkas tertinggi (52,8) dibandingkan dengan breed lainnya sedangkan sapi lokal (FH) memiliki persentase karkas yang terendah (50,0 persen). Analisa ekonomis menunjukkan bahwa sapi eks-impor (BX) dapat memberi expected margin tertinggi dalam "feedlot (usaha penggemukan)" (Rp 1318/ekor/hari) kemudian disusul oleh sapi FH (Rp 1172/ekor/hari). Penelitian ini menyimpulkan bahwa sapi-sapi BX masih merupakan breed terbaik sebagai sapi bakalan untuk digemukan dalam usaha penggemukan. Sapi lokal yang cukup potensial adalah sapi FH, akan tetapi terdapat kecenderungan bahwa sapi ini kurang dimintai perusahaan "feedlot". Bila sapi lokal akan diproyeksi sebagai "feederstock (sapi bakalan)", disarankan agar dilakukan peningkatan mutu genetik antara lain dengan program kawin silang (cross breeding)
Mostrar más [+] Menos [-]Palabras clave de AGROVOC
Información bibliográfica
Este registro bibliográfico ha sido proporcionado por Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination