[Development and prospect of main plantation crops in Indonesia]
1998
Arifin, H.M.S. | Susila, W.R. (Pusat Penelitian Perkebunan, Bogor (Indonesia))
Indonesio. Perkebunan memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik sebagai sumber pertumbuhan, lapangan kerja, pendapatan, dan sumber devisa. Areal dan produksi tumbuh masing-masing dengan laju 4,1 persen dan 5,6 persen per tahun. Areal perkebunan pada 1997 diperkirakan mencapai 12,5 juta ha dengan total produksi mencapai sekitar 8,6 juta ton. Sumbangan devisa diperkirakan sekitar 10,5 persen dari ekspor non-migas Indonesia. Pada dekade terakhir, tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang pertumbuhannya relatif pesat yaitu di atas 10 persen per tahun, untuk areal, produksi, konsumsi, dan ekspor. Total areal, produksi, dan ekspor pada tahun 1997 masing-masing adalah 2,48 juta ha, 5,36 juta ton, dan 2,89 juta ton. Konsumsi dalam negeri sudah mencapai 2,50 juta ton. Pada masa mendatang, kelapa sawit masih diperkirakan akan tumbuh pesat karena Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit yang paling kompetitif di pasar dunia, di samping permintaan dalam negeri masih terus akan meningkat pesat. Walaupun harga diproyeksikan akan menurun menjadi US$ 450-500 per ton pada tahun 2000-an, depresiasi rupiah yang lebih dari 300 persen akan menempatkan kelapa sawit sebagai tanaman yang kompetitif dan menguntungkan. Dengan dana investasi sekitar Rp 6-9 juta per ha (sampai tanaman siap menghasilkan) nilai financial internal rate of return (FIRR) dari pengusahaan kelapa sawit berkisar antara 32-62 persen. Kisaran nilai FIRR yang tinggi bersumber dari perbedaan teknologi, lokasi, serta fluktuasi harga. Kakao juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dengan laju perluasan, produksi, dan ekspor lebih dari 20 persen per tahun pada dekade terakhir. Perluasan yang pesat dilakukan oleh perkebunan rakyat dan swasta sebagai akibat harga kakao yang sebelumnya tinggi serta kebijakan pemerintah. Areal produksi, dan ekspor kakao Indonesia pada tahun 1997 masing-masing adalah 632,7 ribu ha, 307,1 ribu ton, dan 219,9 ribu ton. Pada masa mendatang, perluasan masih akan dilakukan namun dengan laju peningkatan yang jauh lebih lambat dari dekade sebelumnya. Harga kakao pada masa mendatang diperkirakan antara US$ 1,62-1,86/kg. Dengan investasi antara Rp. 6-9 juta per ha, pengusahaan kakao di Indonesia masih menguntungkan dengan nilai FIRR berkisar antara 22-29 persen. Walaupun ada kesamaan dengan kakao, laju pengembangan tanaman kopi relatif lambat pada dekade terakhir yaitu hanya 2,34 persen per tahun. Akibatnya, peningkatan produksi dan ekspor menjadi lambat yaitu masing-masing 2,99 persen dan 1,05 persen per tahun. Pada tahun 1997, areal, produksi, dan ekspor kopi Indonesia masing-masing adalah 1,16 juta ha, 454,0 ribu ton, dan 307,9 ribu ton. Dengan harga yang sangat fluktuatif, peluang investasi untuk tanaman kopi masih terbuka. Nilai investasi tanaman kopi berkisar antara Rp 6-9 juta per ha dengan nilai FIRR adalah 22-59 persen. Karet Indonesia mengalami pertumbuhan yang relatif lambat dengan laju perluasan, produksi, dan ekspor sekitar 2-3 persen per tahun. Perkebunan karet didominasi oleh perkebunan rakyat dan arealnya secara keseluruhan telah mencapai 3,57 juta ha pada tahun 1997. Produksi dan ekspor pada periode tersebut masing-masing mencapai 1,57 juta ton dan 1,43 juta ton. Dengan tingkat harga pada masa mendatang sekitar US$ 1,1/kg, perluasan areal karet Indonesia masih akan tetap lambat. Dengan biaya investasi antara Rp 5-8 juta per ha, tanaman karet masih merupakan tanaman yang menguntungkan dengan kisaran FIRR adalah 24-38 persen. Teh sebagai komoditas ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan yang relatif lambat yaitu 2,27 persen/tahun untuk areal dan 2,04 persen untuk produksi. Sedangkan eskpor meningkat dengan laju sekitar 8,09 persen/tahun pada dekade terakhir. Areal, produksi, dan ekspor teh Indonesia pada tahun 1996 masing-masing 158 ribu ha, 159 ribu ton, dan 172 ribu ton. Dengan tingkat harga yang paling fluktuatif, teh Indonesia masih mempunyai peluang untuk terus dikembangkan. Dengan investasi antara Rp. 8-10 juta per ha, nilai FIRR untuk teh berkisar antara 18-40 persen
Mostrar más [+] Menos [-]Palabras clave de AGROVOC
Información bibliográfica
Este registro bibliográfico ha sido proporcionado por Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination