Corn self-sufficiency in Indonesia: the past 30 years and future prospects
2002
Swastika, D.K.S. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Agro Ekonomi, Bogor (Indonesia))
Inglés. Corn is the second most important cereal crop after rice. The demand for corn for food and feed is steadily increasing. The CBS data show that in 1918 about 69 percent of corn in Indonesia was consumed as food. About 57 percent of corn is planted in Java, which contributes about 61 percent of national corn production. For the last three decades, corn production has shown a significant growth of 4.07 percent/year. The high production growth of corn, however, failed to meet the domestic demand, causing a rapid increase in the net import. This article overviews the 30 years historical profile of corn production and consumption and prospects for future self-sufficiency. Another objective is to present the constraints to increase corn production. The 30 years CBS data show that until 1975, Indonesia was self-sufficient in corn, but since 1976, corn import was continuously increasing. Some constraints faced by farmers to increase corn production are 1. high price of inputs; 2. low price of grain during harvesting season; 3. poor access of farmers to seed and feed mill industries; 4. lack of promotion of HYVs, especially hybrids, bred by government research centers; and 5. lack of cash capital. To increase corn production, some policy efforts are required. First, government should give more emphasis on "breeding oriented biotechnology research". Second, it should encourage researchers in the research centers to mutually collaborate with private companies, in terms of corn breeding and promotion of the new HYVs resulting from this collaboration. Third, the available land should be utilized for extensification and intensification. Fourth, government should provide farmers with farm credit with simple administrative procedures
Mostrar más [+] Menos [-]Indonesio. Jagung merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Permintaan jagung, baik untuk pangan maupun pakan terus meningkat. Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 1998 sekitar 69 persen jagung di Indonesia digunakan untuk pangan. Sekitar 57 persen jagung selama dekade terakhir diusahakan di Jawa dan memberikan sumbangan sekitar 61 persen terhadap produksi nasional. Selama tiga dekade terakhir produksi jagung telah meningkat rata-rata 4.07 persen/tahun. Namun demikian, pertumbuhan produksi tersebut tidak mampu mengimbangi permintaan dalam negeri, sehingga impor jagung terus meningkat. Tulisan ini bertujuan untuk: 1. mengungkapkan kinerja produksi dan konsumsi jagung selama 30 tahun terakhir dan prospek pencapaian swasembada di masa mendatang 2. mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi petani dan kebijakan pemerintah yang diperlukan, untuk meningkatkan produksi jagung nasional. Data statistik 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa sebelum tahun 1976 Indonesia mampu swasembada, namun sejak tahun 1976 impor jagung terus meningkat. Beberapa kendala yang diduga merupakan hambatan bagi petani dalam meningkatkan produksi jagung antara lain: 1. tingginya harga sarana produksi; 2. rendahnya harga jagung saat panen; 3. kurangnya akses petani terhadap industri pakan dan pangan yang menggunakan jagung sebagai bahan baku; 4. kurangnya ketersediaan benih jagung unggul, terutama hibrida yang dihasilkan lembaga penelitian pemerintah; dan 5. kurangnya modal usaha. Untuk mendorong petani meningkatkan produksi jagung, maka diperlukan kebijakan antara lain; a. lebih memacu pemuliaan jagung dengan memanfaatkan bioteknologi, b. mendorong lembaga penelitian untuk bermitra dengan pihak swasta dalam pemuliaan jagung dan promosi varietas unggul hasil kerja sama, c. memanfaatkan lahan yang potensial untuk perluasan areal tanam jagung serta meningkatkan intensifikasi; d. menyediakan kredit murah dengan prosedur administrasi yang mudah
Mostrar más [+] Menos [-]Palabras clave de AGROVOC
Información bibliográfica
Este registro bibliográfico ha sido proporcionado por Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination