Soybean production technology following rice in irrigated wetland-rice
1996
Adisarwanto, T. | Kuntyastuti, H. | Suhartina (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
Inglés. An effort has been initiated to increasing soybean productivity since Pelita III, but achievement of self sufficient if soybean did not meet, it is due to domestic production is far from sufficient to meet the demand. Much of the demand, therefore has been increasingly met by import. Soybean is a high risk crop, and cultivation of soybean in large areas always faces several constraints as well as technical or non technical aspects. The main priority area for increasing soybean production is irrigated lowland which occupy by 65 percent of the total soybean areas with the average productivity of 1.2 t/ha. At farmers field, the productivity varies from 0.50 up to 2.5 t/ha, whereas at research level reaches 2.5 to 3.0 t/ha. Indonesia occupies number six for harvested area and contributes 1.5 percent of the world total production. In Asia, Indonesia is the third largest areas after China and India. To reduce unsucceed planting of soybean, availability of soybean production technology was determined. The package technology consist of: new improved variety, good seed, optimum land preparation, appropriate fertilizer application, regular plant spacing, IPM and post harvest. The results showed that by implementation at area of 4 to 32 ha in the farmer field, yield of soybean still varied from 1.00 to 2.00 t/ha, depending on locations, sowing date, etc. In the field, rate of adoption soybean production technology by farmers was slow and not all components was adopted due to lack of understanding of farmer
Mostrar más [+] Menos [-]Indonesio. Upaya peningkatan produksi kedelai telah dirintis sejak Pelita III namun swa sembada kedelai belum tercapai, oleh karena itu tidak mengherankan apabila impor kedelai terus meningkat setiap tahun karena kebutuhan selalu lebih besar dibandingkan total produksi di dalam negeri. Kedelai adalah tanaman beresiko tinggi dan pengusahaannya pada areal yang luas sering menghadapi kendala, baik bersifat teknis maupun non teknis, sehingga tingkat produkstivitas yang dicapai sangat beragam. Peningkatan produktivitas kedelai masih dititik beratkan pada lahan sawah karena menempati 65 persen luas pertanaman dengan rata-rata produktivitas 1,20 t/ha. Di lapang produktivitas ini sangat beragam, berkisar antara 0,50 sampai 2,5 t/ha. Hasil kedelai di tingkat penelitian dapat mencapai 2,5 - 3,05 t/ha. Indonesia merupakan negara urutan keenam areal panen dan menyumbang 1,5 persen dari total produksi dunia, sedangkan untuk Benua Asia, menempati urutan ketiga setelah Cina dan India. Pengurangan resiko kegagalan dalam berusahatani kedelai dilakukan dengan merakit suatu paket teknologi budidaya kedelai pada kondisi tanpa dibantu alat mesin pertanian. Paket teknologi tersebut adalah gabungan komponen: varietas unggul, benih bermutu, penyiapan lahan "optimal", pemupukan, jarak tanam teratur, pengendalian hama berdasarkan prinsip PHT, penyiangan, pengaturan pengairan dan penerapan cara prosesing yang tepat. Semua komponen teknologi tersebut dirangkum berdasarkan penelitian dan pelaksanaan yang dilaksanakan di lahan petani dalam skala yang luas (meliputi areal seluas 4 - 32 ha) untuk mempermudah proses adopsi. Hasil penelitian kedelai dari keragaan paket teknologi juga beragam dari 1,00 sampai 2,10 t/ha tergantung lokasi, saat tanam dan faktor lain. Di lapangan adopsi paket teknologi ini oleh petani masih belum seluruh komponen yang dianjurkan, hal ini berkaitan dengan tingkat kesadaran petani rendah, akan kemantapan hasil yang dicapai
Mostrar más [+] Menos [-]Palabras clave de AGROVOC
Información bibliográfica
Este registro bibliográfico ha sido proporcionado por Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination