[Performance of composite sheep produced by crossbreeding between Sumatra local sheep with hair sheep on pen condition]
1999
Subandriyo | Setiadi, B. | Handiwirawan, E. | Suparyanto, A. (Balai Penelitian Ternak, Bogor (Indonesia))
indonésien. Pada kondisi semi intensif (digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari) domba komposit (K) (25 persen Barbados Blackbelly; BB, 50 persen Domba Ekor Tipis Sumatera; DETS dan 25 persen St. Croix; SC) mempunyai bobot sapih yang relatif seimbang dibandingkan dengan persilangan lainnya, pada kondisi intensif (dikandangkan) diharapkan domba komposit ini mempunyai produktivitas yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi performa anak domba komposit generasi kedua, dan performa produksi induk domba komposit (K) generasi pertama (F1), serta beberapa parameter genetik pada kondisi intensif yang dibandingkan dengan persilangan domba BB (50 persen BB, 50 persen DETS; BC), yang pada generasi pertamanya menunjukkan keunggulan produktivitas dibandingkan dengan persilangan lainnya. Pertumbuhan pra- dan pasca- sapih domba persilangan Barbados (BC) dan domba komposit generasi kedua (K-F2) kedua genotipa domba tersebut relatif sama. Kurva pertumbuhan dengan menggunakan model Von Bertalanfy, dengan persamaan: BB (t) = A[1-B*e** (-K*t)), menunjukkan persamaan BB (t) = 26,8(1-0,92e*[-0,01t) untuk domba BC dan BB (t) = 26,1(1-0,92e*[-0,01t) untuk K-F2. Persamaan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kedua genotipa domba tersebut hampir tidak berbeda, dimana domba BC dan K-F2 mencapai dewasa tubuh pada bobot badan 26,8 dan 26,1 kg, dan laju mencapai dewasa tubuh 0,01 untuk kedua genotipa domba BC dan K-F2. Bobot kawin dan bobot badan setelah beranak domba BC dan K-F1 adalah sekitar 29-30 kg dan 31 kg. Rataan jumlah anak sekelahiran domba BC dan K-F1 adalah 1,52 dan 1,48 atau sekitar 1,5 dengan rataan jumlah anak yang disapih masing-masing genotipa sebesar 1,39 dan 1,34. Hal ini berarti bahwa mortalitas pra-sapih untuk domba BC dan K-F1 adalah 5,37 dan 9,76 persen. Dengan demikian apabila selang beranak untuk BC dan K-F1 masing-masing adalah 211 dan 223 hari atau 0,58 dan 0,61 tahun maka laju reproduksi induk (LRI) masing-masing genotipa adalah 1,39/0,58 = 2,39 dan 1,34/0,61 = 2,19. Sementara itu, rataan bobot sapih BC x BC, persilangan St. Croix (HC) x BC dan K-F1 x K-F1 adalah 11,62, 12,60 dan 11,83 kg. Dengan demikian rataan total bobot sapih anak yang dihasilkan oleh domba BC dan K-F1 adalah 11,74 dan 11,83 kg, dan produktivitas kelompok (flock productivity = FP) untuk kedua genotipa domba tersebut per tahun adalah 20,24 dan 19,39 kg untuk genotipa BC dan K-F1. Indeks produktivitas induk (dam productivity index = DPI) yang dihitung dengan FP/Bobot badan induk yang untuk kedua genotipa domba tersebut masing-masing adalah 0,67 dan 0,66 untuk BC dan K-F1. Sementara itu index efisiensi kelompok (flock efficiency index = FEI) yang dihitung berdasarkan FEI = FP/(bobot badan dewasa induk pangkat 0,75), maka FEI kedua genotipa tersebut masing-masing adalah 1,57 dan 1,54 untuk BC dan K-F1. Sementara itu hasil estimasi terhadap ripitabilitas total bobot sapih anak menunjukkan nilai yang relatif rendah (0,092), sehingga nilai MPPA (Most Probable Producing Ability) untuk menduga produksinya untuk masa mendatang relatif sama dengan saat ini. Nilai MPPA untuk total bobot badan sapih anak kedua genotipa tersebut masing-masing adalah 11,79 dan 11,81 kg untuk BC dan K-F1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performans domba komposit, K dan pembandingnya, domba BC tidak berbeda dari segi pertumbuhan, produktivitas induk dan nilai MPPA
Afficher plus [+] Moins [-]Mots clés AGROVOC
Informations bibliographiques
Cette notice bibliographique a été fournie par Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination
Découvrez la collection de ce fournisseur de données dans AGRIS