Economic aspect of hand tractor on tidal swamp areas
1998
Noorginayuwati | Wasniati | Noor, I. | Maamun, M.Y. (Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru (Indonesia))
Английский. To justify the benefits of investment on hand tractor, a study on 13 tractor owners, 11 tractor operator, and 11 tractor users were conducted at subdistricts of Martapura and Sungai Tabuk, District of Banjar, South Kalimantan in 1996/97. The study used investment criteria i.e., BCR (Benefit Cost Ratio), NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), and BEP (Break Even Point) among owners as investors. Although, until the first four-year of operations, hand tractors were not financially sound, as indicated by BCR 1, negative NPV, and IRR discount rate but the farmers as users were very been to use tractors. The actual cultivated land area was 14.49 ha/tractor/year, close to the BEP of 14.73 ha/tractor/year. Tractor broke down during the operations and low rental cost failed to reach the BEP. Alternatives to achieve the BEP are by increasing area cultivated and/or rental rate. Based on the BEP 14.73 ha/tractor/year, and by assuming that 50 percent of the 61,837 ha cultivated lowland in Banjar district will be prepared by hand tractor, then the optimum number of tractors are 2099 units. The advantages of using hand tractors for the users are to increase the efficiency of time and to minimize cost for soil preparation
Показать больше [+] Меньше [-]индонезийский. Penelitian bertujuan untuk mengetahui manfaat penggunaan traktor di lahan rawa yang dilakukan dengan metode survei terhadap 13 pemilik/pengusaha traktor, 11 operator dan 11 pengguna traktor. Penelitian dilaksanakan tahun 1996/97 di desa Penggalaman, Kec. Martapura, Desa Sungai Tabuk Kota dan Gudang Hirang, Kec. Sungai Tabuk, Kab. Banjar, Kalsel. Analisis data selain menggunakan kriteria investasi BCR (Benefit Cost Ratio), NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), dan BEP (Break Even Point) juga analisis persepsi pengguna jasa traktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan traktor selama empat tahun beroperasi belum menguntungkan, yang ditandai oleh BCR 1, NPV negatif dan IRR lebih kecil dari tingkat bunga yang berlaku. Luas lahan garapan rata-rata dengan traktor adalah 14,49 ha/th hampir mencapai nilai impas (BEP) sebesar 14,73 ha/th. Prioritas mengerjakan lahan sendiri, tingkat kerusakan traktor selama pengolahan tanah, dan tingkat sewa, menyebabkan belum tercapai impas. Untuk mencapai impas, maka alternatif yang perlu ditempuh selain meningkatkan areal garapan melalui peningkatan mobilitas dan/atau dengan meningkatkan sewa. Berdasarkan nilai titik impas sebesar 14,73 ha dan dengan asumsi 50 persen dari lahan seluas 61.837 ha di Kab. Banjar diolah dengan traktor, maka jumlah optimal traktor yang diperlukan 2099 unit. Walaupun dari sisi kepemilikan traktor secara finansial belum menguntungkan, namun bagi pengguna sangat bermanfaat dalam mempercepat waktu kerja dan mengurangi biaya pengolahan tanah
Показать больше [+] Меньше [-]