[Decomposition rate of peat soil and its impact on nutrient status on various leaching levels]
2000
Maas, A. | Kabirun, S. | Nuryani, S. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (Indonesia). Fakultas Pertanian)
This study aimed to simulate the field condition of peat in the laboratory scale. Samrist peat was taken from deep peat of West Kalimantan, and topogeneous peat from Rawa Pening (Central Java), these peats are kept in the saturated condition. The peat was placed up to 85 cm in the PVA tube of diameter 10 cm and diameter 7.5 cm. The first 25 cm of peat in the tube was mixed with the lime with the rate of 0 percent, 50 percent, and 100 percent of total extractable acidity, and urea (100 kg/ha), KCl (100 kg/ha, and SP (200 kg/ha). The degree of aeration was done through different level of water table, i.e., and 20 cm above the peat surface; just at the peat surface, 20 cm and 40 cm below peat surface. The leaching was done at big tube with the interval of 20 days. The leachate was collected for ionic composition measurement, pH and EC values. The peat in the small tube was incubated for 3 months without leaching. The results of the study on Kalimantan peat showed that: Leaching regularly of the peat will speed up the rate of peat degradation and losing the soluble peat nutrients, meanwhile the controlled peat leaching is able to depress the peat decomposition and the lost of peat nutrients. The time of 3 months is not enough for peat dynamic that caused by different aeration level and peat amendment. The leaching of potassium that has been given as a fertilizer is very fast at the regular leaching experiment. The efficiency of fertilization can be faced in treatment without leaching. Peat from Rawapening have no potential problem to be developed for plant media, the regular leaching are able to deplete peat nutrients, and speed up the rate of further peat decomposition./Penelitian ini merupakan percobaan simulasi gambut kondisi lapangan yang dikerjakan dengan skala laboratorium. Contoh gambut saprik berasal dari gambut tebal Kalimantan Barat, dan gambut topogen dari Rawapening Jawa Tengah. Kondisi gambut tetap dipertahankan dalam keadaan jenuh air. Percobaan menggunakan paralon berdiameter 10 cm dan 7,5 cm, panjang 95-105 cm dan bagian dasarnya tertutup, ke dalam paralon dimasukkan bahan gambut setinggi 85 cm. Tingkat aerasi diatur berdasarkan tinggi air tanah dalam kolom: digenangi + 20 cm; 0 cm/sejajar permukaan; -20 cm dan -40 cm. pH gambut divariasi dengan pencampuran kapur pada 25 cm dari permukaan. Pemberian kapur divariasi berdasarkan tingkat kemasaman 0 persen, 50 persen dst. Percobaan lindian dilaksanakan pada gambut dalam paralon berdiameter 10 cm, air lindian ditampung selang waktu 20 hari sebanyak 4 kali (3 bulan), dan kualitas air tersebut mencerminkan laju dan tingkat dekomposisi sebagai akibat perlakuan aerasi dan penetralan kemasaman. Perlakuan gambut pada paralon berdiameter 7,5 cm adalah tanpa pelindian, dan muka air tetap dipertahankan. Pelindian secara berkala mempercepat laju degaradasi dan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, sedang pelindian kontrol mampu menekan laju degradasi dan menurunkan laju kehilangan nutrisi tanaman. Selang waktu 3 bulan belum cukup untuk melihat perilaku perubahan sistem aerasi terhadap kelakuan gambut akibat reklamasi dan pemberian bahan masukan. Pelindian unsur K yang diberikan sebagai pupuk terjadi sangat cepat apabila pelindian dilakukan secara berkala, sebaliknya apabila pelindian tidak dikerjakan selama musim tanaman (tanaman semusim) maka efisiensi pupuk dapat ditingkatkan. Gambut Rawapening merupakan gambut yang tidak mempunyai masalah untuk dikembangkan sebagai media tumbuh tanaman, pelindian secara terus menerus juga menguras nutrisi yang dihasilkan dari degradasi lanjutan gambut tersebut.
Показать больше [+] Меньше [-]