A study of optimum cropping pattern and irrigation system on cotton + soybean cropping at lowland on rainfed area, South Sulawesi (Indonesia)
1995
Limbongan, J. (Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang (Indonesia)) | Wiroatmodjo, J. | Gonarsyah, I. | Hasnam | Murdiyarso, D. | Djoefrie, H.M.H.B.
Английский. The study was conducted in Takalar, South Sulawesi from February to March 1992 and from April to September 1994. The first study was conducted through survey method with linear programming models as the tool for analysis. Based on the results of the first survey, the second study was arranged in a randomized block design, consisted of three levels of cotton row, three levels of soybean row, and three levels of irrigation systems. From the first study, it was revealed that in an optimum condition, the cropping pattern for rice field was rice (cotton + soybean) with a farm size of 0.95 ha respectively. Labour was the constraint in January, February, April, June, and December. Within those months the farmer families were not sufficient to manage the farms, so that the farmer needed to hire labours. On the contrary, in March, July, August, September, October and November, there were excessive family labours. Surface water was also a constraint in the irrigation of cotton + soybean on rice field, in June, July and August, so that needed additional ground water supply. The growth of stems, leaves and roots in one row cotton was higher than two or three rows. But the treatment with one row cotton was higher in shedding because it did not supported with good irrigation system. The highest yield (1,881 kg/ha cotton seed + 715 kg soybean/ha) was produced in three row of cotton and seven rows of soybean that was irrigated at 0-60 days after planting at 50 percent field capacity and at 61-120 days after planting to make 100 percent field capacity. The profit of the farmers could be increased up to Rp 828 333/ha/year under optimum condition
Показать больше [+] Меньше [-]неизвестный. Penelitian dilaksanakan di kabupaten Takalar, Sulawesi dari bulan Pebruari sampai Maret 1992 dan bulan April sampai September 1994. Penelitian pertama dilakukan dengan metode survei yang dianalisis dengan program linier. Penelitian kedua dirancang berdasar hasil temuan penelitian pertama dan disusun dengan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari tiga macam jumlah barisan kapas, tiga macam jumlah barisan kedelai, dan tiga macam sistem pengairan. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa pada kondisi optimal pola tanam untuk lahan sawah adalah padi (kapas + kedelai) dengan luas masing-masing 0.95 ha. Tenaga kerja merupakan kendala pada bulan Januari, Pebruari, April, Juni dan Desember, artinya pada bulan-bulan tersebut tenaga kerja keluarga tidak cukup untuk mengelola usahatani sehingga perlu menyewa tenaga kerja dari luar keluarga. Sebaliknya pada bulan Maret, Juli, Agustus, September, Oktober, November terjadi kelebihan tenaga kerja keluarga. Air merupakan kendala pada bulan Juni, Juli dan Agustus untuk tanaman kapas + kedelai di lahan sawah sehingga perlu ada tambahan air dengan menggunakan air tanah. Pertumbuhan batang, daun dan akar menurut hasil pengamatan pada penelitian kedua lebih tinggi pada perlakuan satu baris kapas dibandingkan dengan perlakuan dua baris kapas dan tiga baris kapas. Namun jumlah keguguran lebih banyak pada perlakuan satu baris kapas karena tidak didukung oleh sistem pengairan yang baik. Produksi tertinggi, yaitu 1 881 kg/ha kapas berbiji dan 715 kg/ha kedelai dihasilkan dari perlakuan tiga baris kapas dengan tujuh baris kedelai yang diairi dengan sistem pengairan setara dengan 50 persen kapasitas lapang pada umur 0-60 hari disusul dengan 100 persen kapasitas lapang pada umur 61-120 hari. Keuntungan optimum petani petani meningkat Rp. 828 333/ha/tahun
Показать больше [+] Меньше [-]