[Ratio of redsoil and blue clay in mixture as basic materials for land reclamation in the area of PT Tambang Batu Bara Bukit Asam, Tanjung Enim (South Sumatra, Indonesia) using maize as indicator plant]
1995
Mulyani, A. | Soekardi, M. | Adiningsih, J.S. | Ladiyani R.W.
индонезийский. Penelitian perbandingan campuran tanah merah dan blue clay untuk reklamasi lahan timbunan di PTBA (PT. Tambang Batubara Bukit Asam) Tajung Enim telah dilakukan di rumah kaca Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Tanah merah bereaksi sangat masam, miskin unsur hara, kandungan Al tinggi. Sebaliknya blue clay merupakan bahan/batuan liat yang bereaksi netral-alkalis, kaya kation-kation, garam-garam (sulfat) dan logam berat, sangat padat dan masif/pejal. Terbatasnya tanah merah mengakibatkan ada beberapa lokasi timbunan yang mana batuan liatnya muncul di permukaan. Perbandingan tanah merah dan blue clay yang diteliti adalah 0:5 (P1); 5:0 (P2); 4:1 (P3); 3:2 (P4); 2:3 (P5); dan 1:4 (P6), dengan indikator tanaman jagung. Perlakuan lainnya adalah masing-masing pot tanpa dan diberi bahan organik (5 t/ha). Pemupukan dasar adalah 150 kg urea, 120 kg P, dan 100 kg KCl/ha. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok, dengan 3 ulangan. Pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun dan pH tanah dilakukan setiap 2 minggu, umur 8 minggu tanaman dipanen dan ditimbang berat kering brangkasannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang terbaik dan sangat berbeda nyata diperoleh pada perlakuan perbandingan tanah merah dan blue clay 4:1 dan menggunakan bahan organik. Hal ini memberi petunjuk bahwa, bila bahan blue clay berada di permukaan maka harus dicampur sedikitnya dengan 4 bagian tanah merah. Setelah tanah dicampur selama 8 minggu, pH tanah umumnya menurun. Penurunan pH tanah pada perlakuan bahan organik lebih kecil dibandingkan dengan yang tanpa bahan organik
Показать больше [+] Меньше [-]