[Identification of groundnut cultivation technology in Jratunseluna watershed]
1996
Toha, H.M. (Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi (Indonesia)) | Arifin, Z.
Английский. Groundnut is the primary cash crops planted by farmers at the dryland of DAS Jratunseluna, beside corn, upland rice, and cassava, that used for direct consumption. However, yield of groundnut obtained by the farmers are still low, due to the low fertilizer input local pratices used, and pest/disease infestation. In dryland, cropping pattern of corn + groundnut + cassava - soybean (groundnut) - cowpea is better than corn - upland rice + cassava - groundnut + cowpea. The first cropping pattern yielded equal to 11,39 t/ha rice grain compare to 10.71 t/ha for the second pattern. In lowland rainfed areas, the total production achieved is equal to 14.19 t/ha rice grain. The yield of groundnut at the third season is 1.62 t/ha dry pods or equal to 14.19 t/ha rice grain. The yield of groundnut at the third season is 1.62 t/ha dry pods or equal to 3.85 t rice grain/ha. Groundnut varietal trial at Blora showed that the average yield was 2.17 t/ha with Gajah variety yielded highest i.e. 2.29 t/ha. The average yield of groundnut at Grobogan was 3.08 t/ha, where the highest yield obtained by line IPBN.PN 4890. Yield of groundnut planted in dry season is better than that in rainy season. Fertilizer trials indicated that complete fertilizer of NPKS yielded 2.83 t/ha, followed by NPK application (2.61 t/ha) and PK fertilizer application produced only 1.52. Intercropped of groundnut with corn total yield equal to dry pod 8.09 percent to 21.15 percent higher than that monoculture. The total biomass increased up to 5.88 to 7.33 t/ha, while monoculture crop produced only 4.35 t/ha
Показать больше [+] Меньше [-]индонезийский. Kacang tanah merupakan komoditas utama yang diusahakan petani lahan kering DAS Jratunseluna, karena semua hasilnya dijual sebagai sumber pendapatan tunai. Komoditas pangan lainnya seperti jagung, padi gogo dan ubikayu sebagian besar dikonsumsi keluarga. Hasil kacang tanah yang dicapai pada tingkat petani umumnya masih rendah. Kendala utama yang ada penggunaan varietas yang umumnya masih varietas lokal dan tingkat pemupukan yang masih rendah. Selain itu ada juga gangguan hama dan penyakit, terutama penyakit virus. Kacang tanah dapat masuk dalam satu kesatuan pola tanam lahan kering, baik untuk musim pertama maupun musim kedua setelah padi gogo atau kacang tanah. Selain itu, dapat masuk pada musim ketiga setelah padi walik jerami di lahan sawah tadah hujan pada cekungan perbukitan. Pola tanam dilahan kering yang didahului kacang tanah (Jg + Kt/UK - Kd(Kt) - Ktgk) lebih baik dari yang didahului padi gogo (Jg + Pd/Uk - Kt - Ktgk). Hasil setara gabah pada pola pertama dapat mencapai 11,393 t/ha dan pola kedua hanya 10,713 t/ha, sumbangan terbesar didapat dari pertanaman kacang tanah. Sedangkan pola tanam di lahan sawah tadah hujan dapat mencapai hasil setara gabah 14,190 t/ha, sumbangan kacang tanah di musim ketiga mencapai 3,85 t/ha atau 1,620 t/ha polong kering. Pengujian beberapa kultivar kacang tanah di Nglengkir (Blora) mencapai hasil rata-rata 2,17 t/ha polong kering dengan kisaran 2,08-2,29 t/ha dan hasil tertinggi dicapai kultivar Gajah. Penelitian lain di Desa Dimoro (Grobogan) mencapai hasil rata-rata 3,08 t/ha dengan kisaran 2,83-3,40 t/ha, hasil tertinggi dicapai galur IPBN.PN 4890. Dari 11 kultivar yang diuji sebagai pertanaman MH dan MK, ternyata hasil rata-rata pada MK lebih baik dari MH, yaitu 2,25 berbanding 1,27 t/ha polong kering. Percobaan pemupukan NPKS menunjukkan hasil tertinggi dicapai pada perlakuan pemupukan NPKS (2,83 t/ha) diikuti perlakuan NPK (2,61 t/ha) dan PK (2,12 t/ha). Sedangkan bila tanpa dipupuk hanya mencapai 1,52 t/ha. Bila dibandingkan dengan pertanaman tunggal, pertanaman tumpangsari dengan jagung dapat meningkatkan hasil setara polong kering 8,09 persen (pola petani) dan 21.15 persen (pola peneliti). Selain hasil yang meningkat, total limbah yang dihasilkan juga meningkat menjadi 5,882 t/ha dan 7,333 t/ha, sementara pertanaman tunggal hanya mencapai 4,351 t/ha. Limbah yang meningkat dapat digunakan sebagai pakan ternak atau mulsa untuk mengurangi erosi dan menambah kandungan bahan organik tanah
Показать больше [+] Меньше [-]