[Rhizoplus inoculation and phosphorus fertilization on soybean in Mediteran, Alluvial and Vertisol soils]
1999
Suryantini (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Indonesia))
A greenhouse experiment, to study the influence of Rhizoplus inoculation and Phosphorus fertilization on growth, nodulation and yield of soybean was conducted during April-July 1996. A factorial randomized complete block design was used with three replications. The first factor consisted of three soil types: Mediteran, Vertisol and Alluvial. The second factor consisted of two fertilization treatments: without and with P equal to 100 kg TSP/ha. The third factor consisted of four treatments of inoculum application: without inoculation, inoculum applied to the seed, inoculum applied to the soil in the seed whole, and inoculum applied to the soil at emergent time. In Alluvial soil with high P content (24.29 ppm), there was no effect of either Rhizoplus inoculation nor P fertilization as well as their interaction on growth, nodulation and yield of soybean. In vertisol soil with low P content (2,86 ppm), interaction of Rhizoplus inoculation and P fertilization was significant on nodule dry weight. However, only P fertilization was significant in increasing soybean seed yield per plant. In Mediteran soil with low P content (1.92 ppm), there was significant interaction between Rhizoplus inoculatin and P fertilization on nodule dry weight and seed weight per plant. The highest seed weight per plant was obtained by applying inoculum to the seed (seed coating) accompanied by P fertilization. It can be concluded that in soil with high available P, Rhizoplus inoculation and P fertilization was not recommended./Kahat P dan N merupakan salah satu kendala utama dalam peningkatan produktivitas kedelai. Masalah utama dengan hara P adalah kelarutannya yang rendah dalam tanah, sedangkan tanggap terhadap pemupukan N sering tidak konsisten karena berkaitan dengan kemampuan tanaman menambat nitrogen dari udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh inokulum Rhizoplus (yang mengandung bakteri penambat N dan pelarut P) dan pemupukan P terhadap produktivitas kedelai pada tiga jenis tanah. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balitkabi, selama bulan April-Juli 1996. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial, diulang tiga kali. Faktor pertama adalah jenis tanah: Mediteran dan Vertisol Pasuruan (dari lahan sawah tadah hujan), serta Alluvial Kendalpayak (lahan sawah irigasi). Faktor kedua adalah pemupukan P: tidak dipupuk dan dipupuk P setara dengan 100 kg TSP/ha. Faktor ketiga adalah cara inokulasi Rhizoplus: tidak diinokulasi, diinokulasi ke benih, inokulasi ke lubang tanam, dan inokulasi ke tanah setelah tanaman berkecambah. Di tanah Alluvial Kendalpayak dengan kadar P tinggi (24,29 ppm) dan pH sekitar netral (6,8), inokulasi Rhizoplus, pemupukan P maupun interaksinya tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, bobot bintil maupun bobot biji/tanaman kedelai. Namun karena tingkat kesuburan tanahnya tinggi, rata-rata bobot biomas dan biji yang dihasilkan lebih tinggi dibanding pada dua jenis tanah lainnya. Di tanah Vertisol Pasuruan dengan kadar P rendah (2,86 ppm) dan pH netral (7,0), pemberian pupuk P meningkatkan bobot biji dari 4,2 g/tanaman tanpa pupuk P menjadi 8 g/tanaman. Sedangkan inokulasi Rhizoplus dan interaksinya dengan pupuk P tidak nyata terhadap hasil biji. Di tanah Mediteran Pasuruan dengan Kadar P rendah (1,29 ppm) dan pH alkalis (7,9), terdapat interaksi antara inokulasi Rhizoplus dan pemupukan P pada bobot bintil akar dan hasil biji kedelai. Hasil biji tertinggi (8,5 g biji/tnm.) dicapai pada perlakuan inokulasi benih dan pemupukan P. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada tanah dengan kandungan P tersedia tinggi, inokulasi Rhizoplus dan pemupukan P tidak dianjurkan.
显示更多 [+] 显示较少 [-]