[Conservation tillage to support sustainable maize farming system on shallow peat]
1999
Supriyo, A. (Balai Penelitian Tanaman Rawa, Banjarbaru (Indonesia)) | Riza, A. | Ananto, E.E.
英语. On farm research was conducted on Margo Mulyo village, Musi Banyuasin district of South Sumatra provinces in 1998 DS (May-August 1998) to involve in a group cooperator farmers was laid in one hydrologys. Location was shallow peat typology with C area tide, 70-80 cm thickness, and hemic-fibric of the maturity. The technology of Zea mays culture was developed consist of conservation tillage (Touchdown 2 l per ha-dibbes), the use of Arjuna variety, application of one way flow system (Tabat system), balance fertilizer of 65 kg N + 60 kg P2O5 + 50 kg K2O per ha, pest control based on scouting method and thresher application to accelerate postharvest. This introduction technology was applied in 32 cooperator farmers in 32 ha. As control were selected in 32 farmer surrounding area with dominant exiting technology. Parameter were select i.e. weed dominance index, weed cover, yield (convert to ha from 5 x 5 sguare meter) income-cost analysis, labour, input was collected in farm record keeping (FRK) of cooperator and non cooperator farmers. Feasibility tillages technology introduction quite and no feasible respectively. Results showed that the dominance weed species on shallow peat was Phragmithes (Broadleave), Imperata cylindrica (grasses). CTT to indicate of weed species diversity lower than CT consisted of six and ten weed species. Weed cover of conservation tillage technology (CTT) was 5.0 percent, while 12.50 percent on conventional tillage (CT). The yield of CTT was 3.250 t per ha or 170.8 percent over conventional tillage (1.200 t/ha). Application of conservation tillage of Zea mays farming system on shallow peat land to decrease labour 16.0 Man days/ha from 54.5 Man days/ha (CT) to 38.5 Man days/ha of CTT. Application of conservation tillage technology of Zea mays farming was quite feasible developed (MBCR: 4,6) in homogenous typology land with more extent area to support sustainable Zea mays farming system and to support areas development.
显示更多 [+] 显示较少 [-]印度尼西亚. Penelitian pengembangan telah dilaksanakan di lahan petani di desa Margo Mulyo, Kec. Muara Padang, Kab. Musi Banyuasin, Sum-Sel pada MK 1998 mulai bulan Mei-Agustus 1998 yang melibatkan satu kelompok tani dalam hamparan hidrologis seluas 32 ha. Tipologi lahan gambut dangkal dengan tipe luapan C. ketebalan gambut 70-80 cm dan tingkat kemasakan hemik-fibrik. Teknologi budidaya jagung yang diintroduksikan meliputi olah tanah konservasi (herbisida Touchdown 2 l/ha preemergen-tugal), benih jagung var. Arjuna, penerapan tata air mikro satu arah, pemupukan berimbang 150 kg Urea + 125 kg SP 36 + 50 kg K2O per ha, pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pemantauan, penggunaan threser untuk pasca panen. Teknologi introduksi ini diterapkan pada 32 petani koperator seluas 32 ha. Sebagai pembanding dipilih 32 petani di sekitarnya yang mengusahakan tanaman jagung dengan menggunakan teknologi yang dominan di tingkat petani. Parameter yang diamati meliputi dominasi gulma sebelum olah tanah, penutupan gulma sebelum penyiangan, hasil (konversi ubinan 5 x 5 meter persegi ke dalam hektar), analisis biaya pendapatan, curahan tenaga kerja, biaya saprodi yang dilaksanakan dengan mengisi catatan buku usahatani harian (farm record keeping) pada petani binaan dan petani pembanding. Tingkat kelayakan teknologi yang dikembangkan dinilai dengan menggunakan kriteria tambahan nisbah keuntungan terhadap biaya (MBCR), bila nilai MBCR 1, maka teknologi olah tanah konservasi (OTK) yang diintroduksi layak dikembangkan, bila MBCR 1 maka teknologi OTK tidak layak dikembangkan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa jenis gulma dominan pada tipologi gambut dangkal adalah jenis gulma Phragmites (golongan daun lebar) kemudian disusul Imperata cylindrica (golongan rerumputan) OTK cenderung menunjukkan keragaman spesies gulma lebih rendah dibandingkan dengan OTI masing-masing terdiri atas 6 dan 10 spesies gulma. Penutupan gulma pada teknologi olah tanah konservasi 12,5 persen, sedangkan pada olah tanah konvensional mencapai 5,0 persen. Tingkat hasil pada penerapan OTK mencapai 3,250 t/ha atau 170,8 persen di atas Intensi/Konvensional (1,200 t/ha). Penerapan OTK pada usahatani jagung di lahan gambut dangkal dapat menurunkan tenaga kerja 16,0 HOK/ha dari 554,5 HOK/ha (OTI) menjadi 38,5 HOK/ha pada teknologi OTK. Penerapan OTK di dalam usahatani jagung cukup layak dikembangkan (nilai MBCR; 4,70) pada tipologi lahan sejenis dengan skala yang lebih luas untuk mendukung keberlanjutan usahatani dan menopang pengembangan wilayah
显示更多 [+] 显示较少 [-]