[Research results of shallots, 1993/1994 and 1994/1995]
1995
Suwandi
印度尼西亚. Bawang merah sebagai komoditas strategi dan ekonomis bagi masyarakat Indonesia, memerlukan dukungan pengembangan teknologi tepat guna khususnya bagi petani bawang merah yang umumnya ber lahan sempit (0,5 ha). Beberapa kegiatan penelitian bawang merah dalam tahun 1993/94 dan 1994/1995 secara umum ditujukan untuk mendapatkan perbaikan paket teknologi budidaya dan penanganan pasca panen bawang merah, memperbaiki komponen pengendalian hayati pada hama ulat bawang dan penyakit bercak ungu, serta untuk mendapatkan teknologi usahatani bawang merah asal biji botani (TSS = True Shallot Seed). Pendekatan penelitiannya ditempuh melalui survai, kegiatan penelitian laboratorium, Rumah Kaca/Sere dan penelitian lapangan skala kebun percobaan. Hasil-hasil yang dapat dicapai sampai saat ini dapat diungkapkan sebagai berikut: klon-klon harapan (no.54,22 dan 22) berproduksi tinggi (25,65-23,89 t/ha) di dataran medium. Respons kultivar bawang merah Sumenep memerlukan pemupukan N (100 kg/ha) lebih tinggi dari kultivar lainnya (Bima dan Kuning) di dataran rendah. Sedangkan penggunaan pupuk fosfat SP-36 tampak lebih efisien dibandingkan TSP pada level dosis 150 kg/ha. Penggunaan kaptan (kapur pertanian) dan biostimulan Agrispon dapat memberikan harapan terhadap perbaikan sifat kimia dan "fisik" tanah liat berat (Vertisol) untuk bawang merah dengan peningkatan hasil bawang merah segar mencapai 7,5 persen. Penggunaan insektisida b.a. Bacillus thuringiensis dapat menekan populasi Spodoptera exigua dan intensitas kerusakannya pada tanaman bawang merah. Penggunaan isolat NPV = Nuclear Polyhedrasil Virus dalam konsentrasi 3,1 x 10 x 13 ppb/ml dapat mematikan ulat bawang pada 4-9 hari setelah aplikasi. Pengendalian gulma melalui penyiangan secara mekanis di dataran medium sama efektifnya dengan penggunaan mulsa jerami dan penyemprotan herbisida Pendimethalin dosis 3 l/ha. Sedangkan bentuk kemasan keranjang (bambu, triplek dan kardus) cukup layak untuk mengangkut bawang merah. Perlakuan pengeringan (50-60 derajat C), ketebalan pengirisan 1-3 mm dan perendaman dengan Natrium Meta Bisulfit 500 ppm selama 10 menit mampu mempertahankan kadar VRS. Selanjutnya untuk budidaya bawang merah TSS, vernalisasi (t = 10 derajat C) selama 4 minggu sangat menentukan pembungaan, dan pembijian bawang merah didataran rendah. Cara vernalisasi tersebut mampu menghasilkan produksi benih rata-rata 4,5 kg/ha. Di lapangan cara semai TSS sistem pembumbungan dan umur transplating jarak tanam dan pemupukan N nyata mempengaruhi ukuran umbi dan hasil umbi yang bawang merah yang tinggi
显示更多 [+] 显示较少 [-]