[Rice harvesting development using team work system]
1996
Setyono, A. | Nugraha, S. | Hasanuddin, A.
印度尼西亚. Berdasarkan survei Biro Pusat Statistik kehilangan hasil padi selama penanganan pasca panen mencapai 21,03 persen dan tertinggi pada tahapan pemanenan, yaitu mencapai 9,19 persen dan pada prontokan sebesar 4,98 persen. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menekan tingkat kehilangan hasil tersebut. Ada dua sistem pemanenan padi yang populer di Jalur Pantura, Jawa Barat, yaitu sistem keroyokan (bebas) dan sistem ceblokan yang masim-masing menyebabkan kehilangan hasil sebesar 18,9 persen dan 14,3 persen. Pemanenan padi dengan sistem beregu yang beranggotakan 20-30 orang tingkat kehilangan hasil ditekan menjadi 4,4 persen. Penggunaan mesin perontok pada proses perontokan padi dapat mempercepat kerja dengan kapasitas 526,6 kg/jam sampai 1143,1 kg/jam, sedangkan dengan cara gebot kapasitasnya berkisar antara 38,6-41,8 kg/jam-orang. Penerapan pemanenan padi dengan sistem beregu yang saat ini dikembangkan di tingkat petani adalah pemanen hanya bertugas memotong padi dan mengumpulkan, dengan upah bawon 1/8-1/9 bagian. Selanjutnya perontokan dilakukan kelompok jasa perontok menggunakan mesin perontok dengan ongkos Rp 1.500,-/kuintal ditanggung oleh petani pemilik. Hambatan yang dihadapi dalam pengembangan pemanenan sistem beregu antara lain rendahnya tingkat pendidikan para petani dan penderep yang menyebabkan lambatnya pemasukan teknologi pascapanen. Hambatan lain adalah belum adanya dukungan dari pemerintah daerah yang berupa kebijakan dalam pengembangan pemanenan padi dengan sistem beregu serta dari para pengumpul jerami untuk kepentingan media tumbuh
显示更多 [+] 显示较少 [-]