Fertilizing technology for corn cultural practices in low productive area
1996
Sudaryono (Balai Penelitian Tanaman Pangan, Malang (Indonesia))
英语. Low productive dryland will be a potential area for extending food crops, especially corn. Considering to high variability of soil fertility, each land unit reflects a specific agroecology which needs a certain package of fertilizer for corn. This paper discuss a package of fertilizer technology for corn in low productive area in East Java and East Nusa Tenggara Provinces. The experiments in East Java were conducted at three locations: 1. Dawung village, Jogorogo, Ngawi district for Agroecology-1 characterized by Alfisol soil with climate type B-3, 2. Geneng village, Sidomulyo, Bojonegoro district for agroecology-2 characterized by Entisol soil with the type of climate C-2 and 3. Sugihan village, Solokuro, Lamongan district for agroecology-3 characterized by Ultisol soil with the type of climate D. The experiments in East Java covered one growing season from November, 1993 to April 1994. The experiments in NTT covered one season from December 1993 to April, 1994, conducted in Watuliwung and Watumilok villages. The specific package of fertilizer become a package of location specific which corn be developed to other similar area. The experiments used randomized block design. Manure, Saritana and Ammmina liquid fertilizers, and Urea, ZA, TSP, and KCl were used for the treatments. Carbofuran and Metalaxyl were used for pests and diseases control. The fertilizer treatment for NTT was only NPKS fertilizer which was arranged in six alternative packages, and plant protection. The result of this research summarized that manure and NPKS fertilizers, both in East Java and NTT increased maize yield. The ridging did not increase maize yield. Crop protection was able to save the yield lost due to pests and diseases for 3-4 percent. The optimum rate of fertilizer for maize in East Java for agroecology-1, 2 and 3 was 1.5 kg manure/hill plus 67.5 kg N + 45 kg P2O5 + 30 kg K2O/ha. Saritana and Ammina liquid fertilizers can be used as an alternative source of N fertilizer for maize, but additional P and K fertilizers are required. The use of 60 kg K2O/ha in Watuliwung and Watumilok villages increased 9-10 percent of maize yield. Watulangi area responds to S fertilizer. Fertilizer application at rate of 90 kg N + 45 kg P2O5 + 60 kg K2O + 24 kg S/ha in Sikka (NTT) produced more than 4 t/ha of maize
显示更多 [+] 显示较少 [-]印度尼西亚. Lahan kering berproduktivitas rendah akan menjadi daerah potensial untuk perluasan tanaman pangan, khususnya tanaman jagung. Mengingat ragam kesuburan tanah yang tinggi, maka setiap satuan lahan yang mencerminkan suatu tipologi tertentu memerlukan rakitan paket pemupukan jagung tertentu pula. Makalah ini membahas rumusan paket teknologi pemupukan jagung pada lahan berproduktivitas rendah, yaitu: 1. lahan kering dengan jenis tanah Alfisol beriklim B-3 dengan daerah sampel kecamatan Jogorogo, Ngawi, 2. lahan kering dengan jenis tanah Entisol bahan induk kapur beriklim C-2 dengan daerah sampel kecamatan Sidomulyo, Bojonegoro, 3. lahan kering jenis tanah Ultisol beriklim D dengan daerah sampel Kecamatan Solokuro, Lamongan, dan 4. Lahan kering dengan jenis tanah Entisol dengan bahan induk debu di Kecamatan Kewapante, Sikka (NTT). Rumusan paket teknologi didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang dikerjakan pada musim tanam periode Desember 1993 sampai April 1994. Rumusan paket pemupukan ini diharapkan merupakan rumusan paket teknologi spesifik lokasi yang dapat dikembangkan ke daerah lain yang sejenis. Hasil rumusan paket teknologi pemupukan jagung menunjukkan bahwa perbaikan pemupukan jagung di lahan berproduktivitas rendah yang terdiri atas penggunaan pupuk kandang dan pupuk NPKS di Jawa Timur maupun di daerah Sikka, NTT dapat meningkatkan hasil jagung secara nyata. Tindakan pembumbunan tidak meningkatkan hasil tanaman jagung. Penerapan komponen teknologi perlindungan tanaman mampu menyelamatkan kehilangan hasil akibat hama dan penyakit sebesar 3-4 persen. Anjuran pemupukan jagung yang optimal di Jawa Timur untuk Agroekologi-1, 2 dan 3 adalah 1,5 kg pupuk kandang/rumpun ditambah 67,5 kg N + 45 kg P2O5 + 30 kg K2O/ha. Pupuk cair Saritana dan Amina di Jawa Timur dapat dipakai sebagai sumber substitusi pupuk pada tanaman jagung, dan dalam penggunaannya masih harus ditambah pupuk P dan K. Penggunaan pupuk K 60 kg K2O/ha di Watuliwung maupun di Watumilok meningkatkan hasil jagung sebesar 9-10 persen. Daerah Watuliwung tanaman jagung tanggap terhadap pemberian pupuk S. Penggunaan pupuk 90 kg N + 45 kg P2O5 + 60 kg K2O + 24 kg S/ha pada tanaman jagung di daerah Sikka, NTT dapat menghasilkan lebih dari 4 t/ha
显示更多 [+] 显示较少 [-]